TEHERAN – Stabilitas kawasan Timur Tengah kembali diuji setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengumumkan rencana latihan tembak langsung di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis di dunia. Latihan militer tersebut dijadwalkan berlangsung pada awal Februari 2026 dan diperkirakan akan berdampak luas terhadap dinamika keamanan regional serta aktivitas pelayaran internasional.
Informasi tersebut dilaporkan media pemerintah Iran berbahasa Inggris, Press TV, yang dikutip oleh Iran International. Associated Press pada Kamis (29/01/2026) juga melaporkan bahwa otoritas Iran telah mengeluarkan peringatan resmi kepada para pelaut terkait rencana latihan tersebut. Peringatan itu disampaikan melalui pemberitahuan kepada pelaut yang disiarkan menggunakan radio VHF sebagai bagian dari prosedur keselamatan navigasi.
Latihan tembak langsung ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni pada Minggu (01/02/2026) dan Senin (02/02/2026). Laporan tersebut mengutip dua pejabat keamanan Pakistan yang tidak disebutkan namanya, yang mengonfirmasi bahwa peringatan navigasi tersebut benar telah dikeluarkan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang melintas di kawasan Selat Hormuz.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam sistem perdagangan global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar internasional. Setiap eskalasi militer di wilayah ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi global, mulai dari gangguan logistik energi hingga ketidakstabilan harga minyak dunia. Oleh karena itu, rencana latihan militer Iran tidak hanya dipandang sebagai agenda pertahanan nasional, tetapi juga sebagai sinyal politik dalam konteks hubungan internasional.
Rencana latihan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat terhadap Iran. Washington secara terbuka meningkatkan tekanan politik dan militer, bahkan menyampaikan ancaman penggunaan kekuatan bersenjata terhadap Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengerahkan armada besar ke kawasan Timur Tengah yang dipimpin oleh gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln.
Selain pengerahan kekuatan militer, Amerika Serikat juga intensif melakukan diplomasi keamanan. Washington menerima kunjungan pejabat tinggi pertahanan dan intelijen dari Israel serta Arab Saudi dalam pertemuan terpisah yang membahas situasi Iran. Pertemuan tersebut berfokus pada opsi-opsi strategis yang dipertimbangkan AS, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Teheran.
Informasi ini diungkap oleh dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat penumpukan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Situasi ini menciptakan atmosfer geopolitik yang semakin tegang dan penuh ketidakpastian, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada stabilitas jalur perdagangan di kawasan Teluk.
Pada Rabu (28/01/2026), Presiden AS Donald Trump juga mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan terkait isu senjata nuklir. Ia memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat berujung pada serangan militer Amerika Serikat. Pernyataan tersebut langsung dibalas Teheran dengan ancaman akan memberikan respons keras jika terjadi serangan.
Ketegangan ini memperkeruh situasi keamanan kawasan yang sebelumnya sudah rapuh akibat pengerahan tambahan kekuatan militer AS. Dalam konteks ini, latihan tembak langsung di Selat Hormuz dipandang sebagai bagian dari strategi unjuk kekuatan Iran sekaligus pesan politik kepada komunitas internasional bahwa Teheran siap menghadapi berbagai skenario konflik.
Bagi komunitas global, eskalasi ini menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan konflik internasional. Setiap dinamika militer di kawasan tersebut berpotensi memicu efek domino terhadap stabilitas politik, keamanan energi, serta perdagangan dunia, menjadikannya isu strategis yang terus diawasi oleh negara-negara besar dan lembaga internasional. []
Diyan Febriana Citra.

