Iran Luncurkan Rudal Kheibar ke Tel Aviv

Iran Luncurkan Rudal Kheibar ke Tel Aviv

Bagikan:

TEL AVIV – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel. Serangan tersebut dilaporkan menghantam kawasan sekitar Tel Aviv pada Jumat (06/03/2026) dan menjadi bagian dari operasi militer yang disebut Teheran sebagai respons terhadap serangan sebelumnya dari Amerika Serikat dan Israel.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa serangan itu merupakan gelombang ke-21 dari Operasi True Promise 4. Operasi tersebut diklaim sebagai aksi balasan atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu (28/02/2026).

Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut rudal yang digunakan dalam serangan terbaru tersebut adalah rudal Kheibar. Rudal itu diarahkan ke sejumlah titik yang disebut berada di wilayah strategis Tel Aviv.

“Rudal Kheibar telah ditembakkan ke arah Tel Aviv pada hari Jumat sebagai bagian dari gelombang ke-21 Operasi True Promise 4,” tulis pernyataan resmi IRGC.

Selain rudal balistik, Iran juga mengklaim mengerahkan pesawat tanpa awak atau drone dalam operasi tersebut. Penggunaan drone ini disebut menjadi bagian dari strategi serangan berlapis yang dilakukan Iran terhadap Israel.

Laporan dari sejumlah media internasional menyebutkan bahwa suara ledakan terdengar di berbagai titik di Tel Aviv dan wilayah lain di Israel. Ledakan tersebut terjadi saat sistem pertahanan udara Israel berusaha mencegat rudal yang meluncur dari arah Iran.

Sistem pertahanan udara Israel dilaporkan langsung diaktifkan untuk merespons ancaman tersebut. Sejumlah rudal berhasil dicegat di udara, meskipun detail mengenai jumlah rudal yang diluncurkan maupun tingkat keberhasilan pencegatan belum diungkapkan secara resmi.

Hingga laporan ini disampaikan, otoritas Israel belum mengumumkan secara rinci jumlah korban jiwa ataupun kerusakan akibat serangan tersebut. Situasi keamanan di sejumlah kota dilaporkan berada dalam pengawasan ketat aparat militer dan pertahanan sipil.

Serangan ini semakin mempertegas eskalasi konflik yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Hubungan antara Iran dan Israel memang telah lama diwarnai ketegangan, namun rangkaian serangan militer terbaru membuat situasi semakin memanas.

Rudal Kheibar yang digunakan dalam operasi ini diketahui merupakan salah satu senjata strategis terbaru yang dikembangkan Iran. Media internasional sebelumnya melaporkan bahwa rudal ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi militer Iran.

Menurut laporan Euronews pada 23 Juni 2025, rudal Kheibar memiliki panjang sekitar 11,4 meter dan menggunakan bahan bakar padat generasi ketiga. Teknologi ini memungkinkan rudal memiliki daya jelajah yang cukup jauh.

Jangkauan maksimum rudal tersebut disebut dapat mencapai sekitar 1.450 kilometer. Dengan jarak tersebut, sejumlah wilayah di Timur Tengah dapat berada dalam jangkauan serangannya.

Para pengamat militer menilai kehadiran rudal Kheibar menjadi salah satu tonggak penting dalam modernisasi sistem persenjataan Iran. Rudal ini dilengkapi sistem pemandu berbasis satelit yang memungkinkan tingkat akurasi serangan lebih tinggi.

Selain itu, hulu ledak yang dapat bermanuver juga disebut membuat rudal lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara lawan. Dimensi rudal yang relatif ringkas juga memungkinkan peluncuran dilakukan dari berbagai jenis peluncur.

Beberapa laporan bahkan menyebut rudal tersebut dapat diluncurkan dari kendaraan komersial yang dimodifikasi. Kemampuan ini dinilai memberikan fleksibilitas taktis sekaligus meningkatkan unsur kejutan dalam operasi militer.

Rudal Kheibar diketahui membawa hulu ledak dengan bobot sekitar 550 kilogram. Daya ledaknya cukup besar sehingga mampu menimbulkan kerusakan signifikan apabila mencapai target.

Dalam fase akhir penerbangan menuju sasaran, rudal ini disebut dapat melaju dengan kecepatan antara Mach 2 hingga Mach 3. Kecepatan tinggi tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pertahanan udara seperti Patriot maupun David’s Sling yang dimiliki Israel.

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kini menjadi sorotan internasional. Banyak pihak khawatir eskalasi militer antara Iran dan Israel dapat memicu konflik yang lebih luas jika tidak segera mereda. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional