TEHERAN – Iran menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), namun menegaskan penghentian konflik hanya dapat dilakukan apabila terdapat jaminan kuat bahwa serangan serupa tidak akan kembali terjadi. Pernyataan ini disampaikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di tengah meningkatnya tekanan diplomatik internasional untuk menghentikan eskalasi perang yang telah menelan banyak korban sipil.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran membuka ruang penyelesaian damai dengan syarat utama adanya jaminan keamanan jangka panjang. “Kami memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik ini, dengan syarat kondisi-kondisi penting terpenuhi, terutama jaminan yang diperlukan untuk mencegah terulangnya agresi,” ujar Pezeshkian, sebagaimana dilansir Trt World, Rabu, (01/04/2026).
Pernyataan tersebut mempertegas posisi Iran dalam merespons proposal 15 poin yang sebelumnya diajukan AS untuk mengakhiri perang. Sebagai balasan, Teheran mengusulkan lima poin tandingan yang berfokus pada penghentian agresi militer serta pembentukan mekanisme internasional guna mencegah pecahnya konflik baru antara Iran, Israel, dan AS.
“Solusi untuk menormalkan situasi adalah penghentian serangan agresif mereka,” kata Pezeshkian.
Selain menyoroti upaya perdamaian, Presiden Iran juga memperingatkan bahwa setiap intervensi dari pihak luar berpotensi memicu konsekuensi serius bagi kawasan. Ia turut mengkritik sikap negara-negara Eropa yang dinilai pasif terhadap serangan militer yang dilakukan AS dan Israel.
Menurut Pezeshkian, sikap tersebut tidak sejalan dengan prinsip hak asasi manusia yang selama ini diklaim oleh Uni Eropa (UE). Karena itu, ia mendesak negara-negara Eropa untuk menyesuaikan kebijakan luar negeri mereka dengan hukum internasional dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Di sisi lain, Antonio Costa menyampaikan bahwa Eropa tidak mendukung serangan terhadap Iran dan menyatakan kekhawatiran atas dampak global yang ditimbulkan perang tersebut. Ia menyerukan de-escalation dan mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan.
Sementara itu, pemerintah Iran melaporkan dampak kemanusiaan yang semakin memburuk sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026. Berdasarkan data resmi, sedikitnya 249 perempuan dan 216 anak-anak dilaporkan tewas akibat serangan AS dan Israel.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyebut seluruh korban merupakan warga sipil, termasuk 17 anak berusia di bawah lima tahun. Selain korban jiwa, serangan juga disebut menghantam fasilitas sipil dan infrastruktur publik di berbagai wilayah.
Menurut laporan otoritas Iran, lebih dari 105.000 lokasi sipil terdampak, termasuk rumah warga, fasilitas pendidikan, pusat komersial, serta sarana kemanusiaan. Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di Teheran dan sejumlah kota di wilayah tengah Iran.
Palang Merah Iran turut mencatat lebih dari 113.000 titik mengalami kerusakan, meliputi 90.063 rumah, 21.059 fasilitas komersial, 760 pusat pendidikan, dan 18 fasilitas kemanusiaan. Tiga helikopter bantuan juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan.
Hingga kini, perang antara Iran, Israel, dan AS masih berlangsung, sementara tekanan internasional untuk segera menghentikan konflik terus menguat di tengah meningkatnya jumlah korban sipil dan kerusakan infrastruktur. []
Redaksi05

