MOSKWA — Insiden penembakan terhadap pejabat tinggi militer Rusia kembali mengguncang ibu kota. Wakil Kepala Pertama Staf Umum Rusia, Jenderal Vladimir Alekseyev, menjadi korban serangan bersenjata di sebuah gedung apartemen di Moskwa, Jumat (06/02/2026) pagi waktu setempat. Peristiwa ini menambah daftar panjang serangan terhadap figur strategis militer Rusia sejak dimulainya konflik Ukraina pada 2022.
Komite Investigasi Rusia menyatakan bahwa Alekseyev ditembak oleh Orang Tak Dikenal (OTK) yang melepaskan beberapa tembakan sebelum melarikan diri dari lokasi kejadian. Aparat keamanan segera melakukan evakuasi dan membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
“Korban dirawat di rumah sakit,” demikian pernyataan lembaga tersebut, tanpa merinci kondisi korban lebih lanjut maupun identitas pelaku.
Serangan ini langsung memicu peningkatan pengamanan di sekitar lokasi kejadian serta sejumlah titik strategis lain di Moskwa. Otoritas Rusia menyebutkan bahwa proses penyelidikan sedang dilakukan secara intensif, termasuk penelusuran jaringan, motif, serta kemungkinan keterkaitan dengan rangkaian serangan sebelumnya terhadap tokoh militer Rusia.
Juru bicara Komite Investigasi Rusia, Svetlana Petrenko, menegaskan bahwa aparat penegak hukum sedang mengerahkan seluruh sumber daya untuk mengungkap pelaku.
“Langkah-langkah investigasi dan pencarian operasional sedang dilakukan untuk mengidentifikasi orang atau kelompok yang terlibat kejahatan tersebut,” ujar Petrenko, dikutip dari kantor berita AFP.
Penembakan ini tidak hanya dipandang sebagai tindak kriminal biasa, tetapi juga sebagai ancaman serius terhadap stabilitas keamanan internal Rusia. Posisi Alekseyev sebagai salah satu pejabat tertinggi dalam struktur militer Rusia menjadikan peristiwa ini memiliki dimensi strategis dan politik yang luas.
Secara rekam jejak, Vladimir Alekseyev dikenal sebagai perwira karier dengan pengalaman panjang di sektor pertahanan dan intelijen. Ia pernah memimpin operasi intelijen militer Rusia dalam intervensi di Suriah untuk mendukung Presiden Bashar Al Assad sebelum akhirnya rezim tersebut digulingkan. Perannya juga sempat menjadi sorotan publik internasional ketika ia ditugaskan untuk melakukan negosiasi dengan pemimpin kelompok tentara bayaran Wagner, Yevgeny Prigozhin, saat terjadi pemberontakan bersenjata terhadap militer Rusia pada 2023.
Serangan terhadap Alekseyev memperkuat kekhawatiran tentang pola kekerasan yang menyasar elite militer Rusia. Sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022, sejumlah tokoh berpangkat tinggi dilaporkan menjadi target serangan. Ukraina bahkan mengklaim bertanggung jawab atas beberapa insiden yang terjadi di wilayah Rusia.
Salah satu kasus paling menonjol terjadi pada 2024, ketika Kepala Pasukan Pertahanan Radiologi, Kimia, dan Biologi Rusia, Jenderal Igor Kirillov, tewas akibat ledakan skuter bermuatan bom di Moskwa. Peristiwa tersebut menjadi simbol eskalasi konflik ke dalam wilayah domestik Rusia. Dalam perkembangan selanjutnya, pengadilan Rusia menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada pria asal Uzbekistan yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan Kirillov. Kyiv mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi khusus Ukraina.
Penembakan terhadap Alekseyev kini mempertegas bahwa konflik Rusia–Ukraina tidak lagi hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga merambah ke ruang-ruang sipil dan pusat-pusat kekuasaan. Selain sebagai ancaman keamanan, insiden ini mencerminkan kerentanan sistem proteksi terhadap pejabat strategis negara serta menunjukkan bahwa konflik geopolitik berdampak langsung pada stabilitas internal Rusia.
Otoritas Rusia menyatakan akan memperketat pengamanan dan meningkatkan koordinasi antar lembaga keamanan. Publik kini menunggu hasil investigasi resmi untuk mengetahui siapa pelaku di balik serangan tersebut serta motif yang melatarbelakanginya, di tengah meningkatnya eskalasi konflik dan ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur. []
Diyan Febriana Citra.

