Kasus Sandera Hakim Prancis, Polisi Amankan Lima Tersangka

Kasus Sandera Hakim Prancis, Polisi Amankan Lima Tersangka

Bagikan:

PRANCIS – Kasus penculikan terhadap seorang hakim dan ibunya di Prancis mengungkap wajah baru kejahatan terorganisasi yang memadukan kekerasan fisik dengan kejahatan digital berbasis mata uang kripto. Otoritas Prancis berhasil menangkap lima orang tersangka yang diduga terlibat dalam penyanderaan brutal tersebut, yang sempat mengguncang publik karena disertai ancaman mutilasi terhadap korban.

Peristiwa ini menyoroti meningkatnya risiko kejahatan terhadap figur publik yang memiliki keterkaitan dengan sektor ekonomi digital. Para pelaku dilaporkan menyandera seorang hakim berusia 35 tahun dan ibunya yang berusia 67 tahun selama kurang lebih 30 jam. Penyanderaan itu disertai tuntutan tebusan dalam bentuk mata uang kripto, sebuah modus yang semakin sering digunakan dalam kejahatan lintas sektor.

Otoritas penegak hukum bergerak cepat setelah korban ditemukan dalam kondisi terluka. Kantor kejaksaan Lyon mengonfirmasi penangkapan para pelaku.

“Penangkapan empat pria dan satu wanita tersebut menyusul penemuan hakim berusia 35 tahun dan ibunya yang berusia 67 tahun pada hari Jumat, ditemukan terluka di sebuah garasi di departemen Drome bagian tenggara,” kata kantor kejaksaan Lyon dilansir AFP, Senin (09/02/2026).

Dalam keterangan lanjutan, aparat mengungkap bahwa kasus ini bukan sekadar penculikan biasa, melainkan terkait dengan posisi strategis korban dalam dunia bisnis kripto. Dalam konferensi pers yang digelar Jumat waktu setempat, Jaksa Lyon Thierry Dran menjelaskan bahwa korban memiliki keterkaitan penting dengan sebuah perusahaan rintisan mata uang kripto. Hal ini diduga menjadi motif utama para pelaku dalam menentukan target penculikan.

Kejahatan ini memicu operasi pencarian besar-besaran. Aparat keamanan mengerahkan sekitar 160 personel untuk melakukan pengejaran dan pengungkapan kasus. Operasi itu dimulai setelah pihak berwenang menerima pesan dan foto korban yang dikirimkan oleh para pelaku sebagai bentuk tekanan psikologis sekaligus ancaman nyata. Pesan tersebut berisi tuntutan pembayaran tebusan dalam bentuk kripto.

Ancaman yang disampaikan para pelaku tergolong ekstrem. “Para penculik bahkan mengancam akan memutilasi para korban jika uang tebusan tidak segera ditransfer,” kata Dran kepada wartawan, menolak untuk menyebutkan jumlah yang diminta.

Meski berada dalam situasi yang sangat berbahaya, kedua korban akhirnya berhasil menyelamatkan diri. Mereka mampu melepaskan diri dari penyanderaan dan meminta pertolongan kepada warga sekitar. Proses penyelamatan terjadi pada Jumat pagi di wilayah Bourg-les-Valence. Jaksa menyebutkan bahwa tidak ada uang tebusan yang dibayarkan dalam proses pembebasan tersebut.

Kasus ini menimbulkan perhatian luas di Prancis karena menunjukkan eskalasi pola kejahatan modern, yang tidak hanya mengandalkan kekerasan fisik, tetapi juga memanfaatkan teknologi finansial sebagai alat pemerasan. Kejahatan dengan tuntutan tebusan kripto dinilai semakin sulit dilacak dan berpotensi membuka ruang baru bagi kriminalitas terorganisasi.

Penangkapan lima tersangka menjadi langkah awal penting dalam pengungkapan jaringan kejahatan tersebut. Aparat kini masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain, termasuk jaringan pendukung yang terlibat dalam perencanaan, komunikasi, serta pengiriman ancaman. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan serius bagi aparat penegak hukum dan otoritas keamanan Eropa tentang perlunya penguatan sistem perlindungan terhadap pejabat publik dan figur strategis di sektor ekonomi digital. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional Kasus