Konflik Gaza Memanas, Trump Prediksi Perang Gaza Usai 3 Pekan

Konflik Gaza Memanas, Trump Prediksi Perang Gaza Usai 3 Pekan

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan prediksi mengenai konflik berkepanjangan di Jalur Gaza. Ia memperkirakan perang akan berakhir dalam dua hingga tiga pekan mendatang, meskipun situasi di lapangan menunjukkan eskalasi kekerasan justru semakin meningkat dan korban sipil terus berjatuhan.

Pernyataan Trump disampaikan di Gedung Putih, Senin (25/08/2025), saat ia menyinggung tekanan internasional yang kian keras terhadap Israel. Dunia mengecam serangan brutal militer Israel, khususnya serangan udara terhadap Rumah Sakit Nasser di Gaza Selatan yang menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk lima jurnalis.

“Saya kira dalam 2 hingga 3 pekan ke depan, Anda akan mendapatkan akhir yang cukup baik dan konklusif,” ujar Trump kepada wartawan, Selasa (26/08/2025).

Trump menambahkan, konflik harus segera dihentikan karena penderitaan warga sipil sudah terlalu berat. “Ini harus segera berakhir karena di antara kelaparan dan semua masalah lainnya, bahkan lebih buruk daripada kelaparan dan kematian, orang-orang (terus) terbunuh,” ucapnya.

Meski kembali menyampaikan prediksi soal akhir perang, catatan menunjukkan bahwa berbagai janji Trump sebelumnya tidak pernah terealisasi. Mulai dari jaminan masuknya bantuan kemanusiaan hingga komitmen pendanaan puluhan juta dolar untuk Gaza, semuanya tidak terbukti.

Sebaliknya, pemerintahannya justru terus memperkuat dukungan militer untuk Israel dengan memasok senjata bernilai miliaran dolar. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai konsistensi sikap Trump, yang di satu sisi menyerukan perdamaian, namun di sisi lain tetap menyediakan amunisi bagi mesin perang Israel.

Trump juga terlihat enggan menanggapi pertanyaan tentang serangan Israel ke Rumah Sakit Nasser. Padahal, serangan tersebut menuai kecaman internasional, termasuk dari sekutu-sekutu AS di Eropa.

Menjawab singkat pertanyaan soal tragedi itu, ia hanya berkata, “Yah, saya tidak senang dengan ini. Saya tidak ingin melihatnya. Pada saat yang sama, kita harus mengakhiri seluruh mimpi buruk ini.”

Alih-alih membahas tragedi kemanusiaan lebih jauh, Trump kemudian mengalihkan topik ke upaya pembebasan sandera Israel yang masih ditahan di Gaza.

Sementara itu, laporan terbaru dari lembaga kemanusiaan menyebutkan kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Hingga pekan ini, tercatat 281 warga meninggal dunia akibat kelaparan, hampir separuhnya anak-anak. Situasi ini memperkuat desakan agar komunitas internasional lebih tegas menekan Israel untuk menghentikan serangan dan membuka akses bantuan.

Kontradiksi antara ucapan Trump dengan tindakan pemerintahannya menimbulkan tanda tanya besar mengenai arah kebijakan luar negeri AS. Apakah Washington sungguh berkomitmen mendorong perdamaian, atau justru memperpanjang konflik dengan terus memasok senjata kepada sekutunya?

Bagi masyarakat internasional, yang mendesak kini bukan sekadar janji atau prediksi, melainkan langkah konkret untuk menghentikan pertumpahan darah dan mencegah semakin banyak nyawa melayang di Gaza. []

Diyan Febriana Citra.

Hotnews Internasional