JAKARTA – Gangguan operasional kembali mewarnai perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) lintas Rangkasbitung–Tanah Abang pada Kamis (08/01/2026) pagi. Insiden tersebut berdampak pada keterlambatan perjalanan kereta dan berujung pada penumpukan penumpang di sejumlah stasiun, salah satunya Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan.
Situasi tersebut menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan kepadatan penumpang beredar luas di media sosial. Video yang diunggah oleh akun Instagram @infotangerang.id memperlihatkan kondisi peron Stasiun Rawa Buntu yang dipadati calon penumpang sejak pagi hari. Dalam keterangan unggahan itu disebutkan bahwa keterlambatan perjalanan KRL memicu penumpukan penumpang.
“Sering terlambat, KRL Rangkasbitung-Tanah Abang dikeluhkan warganet karena picu penumpukan,” tulis keterangan tersebut.
Dari rekaman video yang beredar, tampak penumpang mondar-mandir di area peron sambil menunggu kedatangan rangkaian KRL. Ketika kereta akhirnya tiba, penumpang berusaha masuk secara bersamaan. Namun, kondisi gerbong yang sudah penuh membuat proses naik kereta tidak berjalan lancar. Sejumlah penumpang terlihat kesulitan masuk hingga harus berdiri di ambang pintu. Bahkan, ada yang berpegangan di bagian atas pintu demi bisa ikut dalam perjalanan.
Kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran terkait keselamatan. Selain berdesakan, kepadatan penumpang juga berpotensi memperlambat waktu berhenti kereta di stasiun karena proses naik dan turun penumpang menjadi lebih lama dari biasanya.
Menanggapi keluhan tersebut, VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, memberikan penjelasan terkait penyebab keterlambatan perjalanan KRL pada lintas Rangkasbitung–Tanah Abang. Ia menyebut gangguan terjadi akibat insiden di jalur rel yang melibatkan kendaraan bermotor.
“Pagi ini ada keterlambatan 1 KA kurang lebih 7 menit karena ada sepeda motor yang menemper KRL di jalur hilir antara Stasiun Daru – Stasiun Parung Panjang,” ujar Karina, Kamis.
Menurut Karina, insiden tersebut membuat satu rangkaian KRL harus tertahan sementara waktu untuk memastikan kondisi kereta dan jalur aman dilalui. Petugas KAI Commuter langsung diterjunkan ke lokasi guna melakukan pemeriksaan serta penanganan cepat agar operasional perjalanan tidak terganggu lebih lama.
Setelah dilakukan pengecekan dan dipastikan tidak ada kendala lanjutan, perjalanan KRL di lintas tersebut kembali dijalankan secara bertahap.
“Perjalanan sudah kembali berjalan lancar,” kata dia.
Karina juga mengimbau masyarakat untuk selalu mematuhi aturan keselamatan, khususnya di perlintasan sebidang. Ia menegaskan bahwa pelanggaran di perlintasan kereta api tidak hanya membahayakan pengguna jalan, tetapi juga dapat mengganggu perjalanan kereta dan merugikan banyak penumpang lainnya.
Selain itu, KAI Commuter meminta para pengguna jasa untuk rutin memantau informasi resmi terkait perjalanan KRL melalui kanal komunikasi yang tersedia, termasuk aplikasi dan media sosial resmi perusahaan. Informasi tersebut dinilai penting agar penumpang dapat mengantisipasi potensi keterlambatan dan mengatur kembali waktu perjalanan mereka.
Insiden ini kembali menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalur rel merupakan tanggung jawab bersama. Gangguan sekecil apa pun dapat berdampak luas terhadap kelancaran transportasi publik, terutama pada jam-jam sibuk ketika volume penumpang sedang tinggi. []
Diyan Febriana Citra.

