MOSKOW– Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, mengonfirmasi bahwa persiapan kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Indonesia telah memasuki tahap serius. “Pertemuan puncak ini membutuhkan persiapan matang, terutama terkait implementasi konkret berbagai kesepakatan yang telah dicapai kedua negara,” ujarnya dalam interview bersama RIA Novosti, pada 15 Februari 2026.
Rencana kunjungan ini diperkirakan akan melipatgandakan nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia, menargetkan angka hingga 10 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan. Hal ini disampaikan oleh Amy Maulana, pakar hubungan Rusia-Indonesia dari ANO Center for Mediastrategi, dalam analisis terbarunya terkait dampak kunjungan bersejarah tersebut.
“Nilai perdagangan bilateral saat ini mencapai 4 miliar dolar AS pada 2025. Dengan adanya kunjungan Putin dan implementasi perjanjian perdagangan bebas, kami memproyeksikan lonjakan hingga 10 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan,” ujar Amy Maulana dalam keterangannya, dikutip dari RIA Novosti, Senin (24/02/2026).
Menurut Amy, produk-produk unggulan Indonesia seperti minyak sawit, kopi, kakao, tekstil, dan elektronik akan semakin kompetitif di pasar Rusia dan negara-negara anggota EAEU lainnya, termasuk Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kirgistan. Sebaliknya, Rusia akan memasok gandum, pupuk, produk logam, dan peralatan teknologi tinggi ke Indonesia.
Selain itu, kerja sama di sektor halal yang tengah dijajaki diyakini akan membuka peluang besar bagi produk Indonesia di pasar Rusia, yang memiliki populasi Muslim mencapai 20–30 juta jiwa atau sekitar 20 persen dari total penduduk Rusia.
Kunjungan ini dinilai sebagai momentum penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya kalangan pelaku usaha dan akademisi, untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Rusia di kancah global. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Agnes Wiguna

