Lebanon Berkabung, Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 250 Orang

Lebanon Berkabung, Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 250 Orang

Bagikan:

BEIRUT – Lebanon menetapkan hari berkabung nasional setelah serangan udara besar-besaran Israel menewaskan lebih dari 250 orang dalam sehari, menjadikannya salah satu hari paling berdarah sejak konflik terbaru di kawasan itu pecah. Eskalasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu perdebatan mengenai cakupan penghentian konflik di wilayah Timur Tengah.

Serangan yang terjadi pada Kamis (09/04/2026) dini hari hingga pagi waktu setempat menyasar Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan Lebanon. Pemerintah Lebanon menyebut ratusan warga sipil menjadi korban jiwa, sementara ribuan lainnya terluka dan sejumlah kawasan permukiman padat penduduk mengalami kerusakan berat.

Eskalasi ini muncul di tengah polemik soal gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya. Israel menegaskan operasi militernya terhadap Hizbullah tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut, sementara Iran dan Pakistan sebagai mediator menyatakan Lebanon semestinya masuk dalam cakupan penghentian konflik.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengecam keras serangan tersebut dan menilai aksi Israel sebagai pelanggaran serius terhadap upaya perdamaian, sebagaimana diwartakan Reuters, Kamis (09/04/2026).

“Ini (serangan Israel) adalah pelanggaran berat terhadap gencatan senjata,” ujar Saeed Khatibzadeh kepada BBC Radio.

“Ini adalah bencana yang bisa berakhir pada bencana yang lebih besar. Inilah sifat dari perilaku nakal yang kita lihat dari Israel di seluruh Timur Tengah,” tambahnya.

Di Beirut, suasana duka menyelimuti sejumlah rumah sakit dan pusat evakuasi. Tim penyelamat dilaporkan bekerja sepanjang malam untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan tanpa peringatan dini.

Salah seorang warga Beirut, Naim Chebbo, mengaku rumah yang telah ditempatinya selama puluhan tahun rusak parah setelah bangunan di sebelahnya rata dengan tanah akibat ledakan.

“Ini tempat saya, ini rumah saya. Saya sudah tinggal di sini selama lebih dari 51 tahun. Sekarang, semuanya hancur. Lihat?” tutur Chebbo pedih.

Militer Israel mengonfirmasi operasi tersebut juga menargetkan infrastruktur yang disebut terkait Hizbullah, termasuk sejumlah titik penyeberangan sungai dan tokoh yang berada dalam lingkaran pimpinan kelompok tersebut. Di sisi lain, Hizbullah menyatakan kembali melancarkan serangan lintas batas ke wilayah Israel selatan sebagai balasan atas serangan udara itu.

Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran komunitas internasional, termasuk Perancis dan Inggris, yang mendesak agar kesepakatan gencatan senjata diperluas hingga mencakup Lebanon untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan.

Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan ancaman serangan balasan, situasi di Lebanon diperkirakan masih sangat dinamis. Masyarakat internasional kini menaruh harapan agar jalur diplomasi segera diperkuat demi menghentikan pertumpahan darah dan mencegah konflik meluas ke kawasan regional. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang