Maryam Abu Daqqa Gugur Saat Liput Serangan di Gaza

Maryam Abu Daqqa Gugur Saat Liput Serangan di Gaza

GAZA – Duka mendalam kembali menyelimuti dunia jurnalistik internasional. Maryam Abu Daqqa, jurnalis foto untuk Independent Arabia, gugur ketika sedang bertugas mendokumentasikan serangan udara Israel di Jalur Gaza, Selasa (26/08/2025).

Maryam tewas di Kompleks Medis Nasser, Khan Younis, setelah dua kali serangan udara menghantam gedung darurat rumah sakit. Ledakan mengenai lantai empat dan lantai teratas bangunan, tempat berkumpul para pasien, tenaga medis, pemadam kebakaran, hingga jurnalis yang tengah meliput. Bersama Maryam, empat jurnalis lain juga ikut meregang nyawa.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat, sejak perang meletus pada Oktober 2023, hampir 200 jurnalis tewas di Gaza. Jumlah tersebut menjadi salah satu angka korban terbesar sepanjang sejarah konflik modern, mencerminkan betapa rentannya profesi jurnalis di wilayah perang.

Maryam bergabung dengan Independent Arabia pada 2020. Sejak perang dimulai, ia tak pernah absen meliput operasi militer Israel, baik serangan udara maupun darat. Setiap hari ia turun ke lapangan mengenakan rompi pelindung dan helm, berpamitan kepada putra tunggalnya, Ghaith, yang kini tinggal di Uni Emirat Arab.

Meski rumah dan perlengkapan kerjanya hancur akibat gempuran, Maryam tetap melanjutkan tugasnya mendokumentasikan penderitaan warga Gaza. Lensa kameranya merekam kisah pengungsian, kelaparan, serangan udara, hingga evakuasi korban.

“Energinya tidak tertandingi dalam liputan media. Ia selalu hadir di setiap sudut dan setiap peristiwa,” ujar Tahseen Al Astal, Wakil Ketua Serikat Jurnalis Palestina.

Maryam tidak hanya menghadapi risiko di medan liputan, tetapi juga kehilangan besar dalam kehidupan pribadinya. Sang ibu meninggal dunia akibat sakit parah dan tidak mendapat perawatan medis layak di tengah blokade dan keterbatasan fasilitas kesehatan. Tragedi itu meninggalkan luka mendalam di hatinya.

Dalam beberapa kesempatan, Maryam bahkan harus mendokumentasikan jenazah rekan-rekannya sesama jurnalis yang gugur. “Setiap kali saya memotret mereka, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya akan bernasib sama, ataukah saya selamat dari pembantaian ini?” kenangnya kepada kerabat sebelum wafat.

Keluarga Maryam kini dirundung kehilangan. Kakaknya, Sadik, mengenang Maryam sebagai sosok lembut dan penuh kepedulian. Ayahnya, Riad Abu Daqqa, tidak kuasa menahan tangis saat memeluk jenazah putrinya.

“Saya kehilangan putri yang paling berharga. Hidup saya terikat padanya. Ini kehilangan besar bagi kami dan bagi para jurnalis. Maryam adalah teladan kemanusiaan yang mulia,” ucapnya.

Jenazah Maryam kemudian dimakamkan dalam suasana pilu. Rekan-rekan jurnalis di Gaza mengiringi kepergiannya dengan doa dan keheningan. Independent Arabia, bersama Persatuan Jurnalis Palestina, menyebut Maryam sebagai simbol dedikasi, keberanian, dan profesionalisme di medan konflik.

Kepergian Maryam menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah liputan di wilayah perang. Namun, pengabdian dan keberaniannya akan terus hidup melalui karya-karya foto yang pernah ia hasilkan.

“Saat kami mengucapkan selamat tinggal, kami menegaskan tekad untuk melanjutkan misi jurnalistik dengan independensi, imparsialitas, profesionalisme, dan keterampilan, sebagaimana yang dilakukan Maryam Abu Daqqa,” demikian pernyataan komunitas jurnalis Gaza.

Maryam mungkin telah tiada, tetapi dedikasi dan pengorbanannya akan selalu dikenang sebagai bagian dari sejarah perlawanan dan catatan kemanusiaan di Gaza. []

Diyan Febriana Citra.

Hotnews Internasional