Menkeu Yakin Keraguan Moody’s terhadap Indonesia Akan Luntur

Menkeu Yakin Keraguan Moody’s terhadap Indonesia Akan Luntur

Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah optimistis kepercayaan lembaga pemeringkat internasional terhadap perekonomian Indonesia akan kembali menguat seiring dengan membaiknya kinerja ekonomi nasional dan pengelolaan fiskal yang dinilai tetap sehat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa indikator makroekonomi menunjukkan tren positif yang akan menjadi bukti konkret atas ketahanan ekonomi Indonesia, termasuk dalam merespons keraguan lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service.

Menurut Purbaya, penilaian negatif atau keraguan lembaga pemeringkat tidak dapat dilepaskan dari dinamika kebijakan dan program pemerintah yang tengah berjalan. Namun, ia meyakini bahwa capaian pertumbuhan ekonomi akan menjadi faktor penentu yang secara perlahan mengubah persepsi tersebut.

“Walaupun ada program seperti yang mereka ragukan, tapi ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Pelan-pelan nanti keraguannya akan hilang,” kata Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (06/02/2026).

Ia menilai bahwa outlook negatif yang diberikan Moody’s berpotensi berbeda jika evaluasi dilakukan setelah data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 dirilis. Pada periode tersebut, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), yang menjadi capaian tertinggi sepanjang tahun 2025, meskipun sedikit di bawah target internal pemerintah sebesar 5,45 persen.

Dalam perspektif fiskal, Purbaya menjelaskan bahwa salah satu fokus utama lembaga pemeringkat adalah kemampuan negara dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam posisi aman dan terkendali.

“Lembaga pemeringkat itu sebetulnya menilai apakah kita mampu bayar utang atau mau bayar utang. Dua-duanya kita penuhi, jadi harusnya nggak ada masalah. Ini saya pikir hanya yang agak pendek saja ya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan anggaran negara yang disiplin, khususnya terhadap program-program strategis pemerintah yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran fiskal. Menurut Purbaya, pengawasan terhadap serapan anggaran akan diperketat agar belanja negara benar-benar berdampak dan tidak menimbulkan pemborosan.

“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kami pastikan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien. Itu yang akan saya lihat nanti. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin Moody’s juga khawatir di situ,” katanya menambahkan.

Secara umum, ia menilai arah pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berada pada jalur yang positif. Defisit fiskal dinilai tetap terkendali, sementara pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan tren penguatan dengan biaya kebijakan yang relatif minimal. Pemerintah pun menargetkan akselerasi pertumbuhan ekonomi ke level sekitar 6 persen dalam beberapa tahun ke depan.

Purbaya juga menyatakan tidak terlalu mengkhawatirkan potensi penurunan peringkat kredit Indonesia. Menurutnya, posisi defisit APBN Indonesia masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara sejawat, sehingga fundamental ekonomi nasional tetap kuat sebagai dasar penilaian jangka panjang.

“Ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga, pertumbuhan akan lebih cepat. Nanti saya pikir pelan-pelan Moody’s akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih adil,” jelas Menkeu.

“Jadi, saya akan fokus memperbaiki fundamental ekonomi saja,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif. Dalam laporannya, Moody’s menekankan pentingnya prediktabilitas kebijakan, kualitas komunikasi publik, serta penguatan koordinasi antarkementerian dan lembaga di tengah dinamika perubahan kebijakan ekonomi nasional.

Selain itu, Moody’s juga menyoroti perlunya penguatan basis penerimaan negara sebagai fondasi pembiayaan belanja prioritas dan pendorong pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan panjang. Pemerintah menilai catatan tersebut sebagai masukan konstruktif dalam upaya menjaga stabilitas fiskal dan memperkuat kredibilitas ekonomi Indonesia di mata global. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Hotnews Nasional