JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyiapkan skema baru dalam pengelolaan hibah riset nasional. Mulai 2026, dosen peneliti yang berhasil memperoleh hibah riset akan menerima insentif finansial secara langsung, tanpa perantara kelembagaan sebagaimana praktik yang berlaku selama ini.
Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/01/2026). Menurut Stella, perubahan skema ini diharapkan dapat memberikan penghargaan yang lebih adil dan langsung kepada para peneliti yang berkontribusi menghasilkan riset berkualitas.
“Sejak tahun ini bagi para peneliti, dosen peneliti yang memenangkan hibah riset itu akan mendapatkan insentif finansial langsung kepada penelitinya,” kata Stella.
Ia menjelaskan, kebijakan ini lahir dari evaluasi panjang terhadap mekanisme pendanaan riset sebelumnya. Dalam beberapa tahun terakhir, aturan yang berlaku tidak memungkinkan penyaluran insentif finansial secara langsung kepada peneliti, karena dana hibah disalurkan melalui institusi atau perguruan tinggi. Kondisi tersebut dinilai kurang memberikan ruang apresiasi personal atas kerja ilmiah para dosen peneliti.
Stella menuturkan, perubahan kebijakan ini bukan keputusan yang diambil secara instan. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal menjabat sebagai Wamendiktisaintek, dirinya telah berkomitmen untuk memperjuangkan insentif langsung bagi peneliti.
Janji tersebut, kata dia, pertama kali disampaikan dalam sebuah paparan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 16 Desember 2024, atau sekitar dua bulan setelah dirinya dilantik. Saat itu, ia menyatakan akan mendorong perubahan regulasi agar dosen peneliti memperoleh manfaat langsung dari keberhasilan riset mereka.
“Jadi dua bulan setelah saya bekerja, saya berjanji saya akan memperjuangkan ini dan janji ditepati, Desember 2025 janji ini ditepati dan sejak 2026 akan mendapatkan insentif finansial langsung kepada dosen peneliti yang memenangkan dana hibah riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi,” ucapnya.
Selain menyangkut skema insentif, Stella juga memaparkan perkembangan signifikan dalam alokasi anggaran riset nasional. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, anggaran dana riset Kemendiktisaintek mengalami peningkatan tajam dalam waktu relatif singkat.
“Jadi banyak sekali peningkatannya dalam satu tahun di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya, seraya menyebut bahwa anggaran riset meningkat hingga 218 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Stella, lonjakan anggaran tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional, termasuk di bidang sosial humaniora yang selama ini kerap dianggap kurang mendapat perhatian dibandingkan sains dan teknologi terapan.
Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto menggelar dialog bersama sekitar 1.200 guru besar, dekan, dan rektor bidang sosial humaniora dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Pertemuan tersebut berlangsung di halaman tengah Istana Kepresidenan RI, Jakarta.
Forum ini menjadi kelanjutan dari pertemuan serupa yang sebelumnya digelar pada 13 Maret 2025, yang kala itu mayoritas dihadiri guru besar dari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Stella menjelaskan, dialog kali ini bertujuan membuka ruang komunikasi langsung antara Presiden dan kalangan akademisi sosial humaniora.
“Kami tentu saja sangat gembira sekali bahwa Bapak Presiden sangat ingin berdialog langsung dengan kami, para akademisi,” ujar Stella.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut akan diisi dengan taklimat Presiden Prabowo, diikuti sesi dialog terbuka yang diharapkan dapat menyerap masukan strategis dari kalangan perguruan tinggi untuk pengembangan kebijakan pendidikan tinggi dan riset nasional ke depan. []
Diyan Febriana Citra.

