JAKARTA — Kabar mengenai tewasnya mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel memunculkan kebingungan di tengah situasi konflik yang kian memburuk di kawasan Timur Tengah. Laporan awal disampaikan kantor berita negara Iran, ILNA, yang menyebut Ahmadinejad meninggal dunia akibat serangan di kawasan Narmak, Teheran timur.
Menurut laporan tersebut, pria berusia 69 tahun itu disebut menjadi salah satu korban pada hari pertama serangan udara besar-besaran yang menghantam sejumlah titik di Teheran. Serangan itu juga dilaporkan menewaskan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, sehingga memicu eskalasi konflik berskala regional.
Namun, informasi tersebut segera diwarnai laporan tandingan. Sejumlah kanal Telegram yang berbasis di Iran mengunggah pernyataan yang diklaim berasal dari Ahmadinejad, berisi kecaman keras terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut menimbulkan spekulasi bahwa Ahmadinejad sebenarnya masih hidup, bertentangan dengan laporan resmi media pemerintah.
Ketidakpastian ini sulit dipastikan kebenarannya karena kondisi Iran yang mengalami pemadaman internet hampir total sejak awal serangan. Situasi tersebut menyulitkan verifikasi independen dari pihak luar. Meski demikian, laporan media internasional menyebut bahwa otoritas media Iran belum mencabut atau merevisi laporan awal mengenai kematian Ahmadinejad.
“Tetapi media pemerintah tidak mengubah laporan awalnya tentang kematian Ahmadinejad,” kata The Telegraph, Senin (02/03/2026).
Sementara itu, konflik bersenjata terus berlanjut dengan intensitas tinggi. Serangan udara terhadap wilayah Iran masih berlangsung, sementara Teheran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke Israel serta sejumlah negara Teluk. Beberapa target strategis dilaporkan terkena dampak, termasuk hotel dan pangkalan angkatan laut Prancis di Abu Dhabi serta stasiun radar berteknologi tinggi di Bahrain.
Qatar juga dilaporkan menjadi sasaran serangan balasan. Sedikitnya 66 rudal ditembakkan ke wilayah negara tersebut, yang menjadi lokasi pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan. Akibat serangan itu, 16 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serpihan proyektil.
Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai figur kontroversial dalam politik Iran. Ia memimpin negara tersebut selama dua periode, dari 2005 hingga 2013, dengan gaya populis yang keras dan konfrontatif terhadap Barat. Pada masa kepemimpinannya, Iran menghadapi sanksi internasional yang melumpuhkan perekonomian. Ahmadinejad juga dikenang karena perannya dalam penindasan demonstrasi Gerakan Hijau pada 2009 serta sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran, termasuk pernyataannya yang menyebut sanksi Amerika Serikat sebagai “kertas tak berharga”.
Pasca lengser dari kursi kepresidenan, Ahmadinejad justru mengambil jarak dari elite kekuasaan yang sebelumnya ia dukung. Ia kerap melontarkan kritik terhadap praktik korupsi, menyerukan pembebasan tahanan politik, serta mempertanyakan legitimasi struktur kekuasaan di Iran.
Di tengah ketidakpastian nasib Ahmadinejad, pemerintah Iran melaporkan dampak besar dari gelombang serangan awal. Menurut data resmi, sebanyak 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka di 24 provinsi Iran pada Sabtu lalu, bertepatan dengan dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya operasi militer dan proses pendataan korban. []
Diyan Febriana Citra.

