WASHINGTON DC – Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS memulai blokade di Selat Hormuz pada Minggu (12/04/2026). Langkah ini diambil usai perundingan damai tingkat tinggi antara kedua negara di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Fokus utama kebuntuan negosiasi berada pada penolakan Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya, meski pembicaraan maraton selama lebih dari 20 jam disebut telah menghasilkan kemajuan pada sebagian besar poin lain. Situasi ini mendorong Washington mengambil langkah militer di salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Trump menyampaikan keputusan tersebut melalui platform Truth Social. “Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip AFP. Ia juga melontarkan ancaman keras kepada Iran. “Setiap warga Iran yang menembaki kami atau kapal, akan DIHANCURKAN!” tegasnya.
Langkah blokade ini menyasar lalu lintas kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran, dengan operasi resmi dijadwalkan dimulai Senin (13/04/2026) pukul 10.00 waktu setempat. Komando Pusat AS (United States Central Command/CENTCOM) menyebut blokade dilakukan terhadap arus maritim menuju pelabuhan Iran, namun tidak menghambat kapal dari negara lain yang melintas menuju tujuan non-Iran.
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa membawa kesepakatan setelah berunding dengan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Pertemuan ini menjadi salah satu dialog tingkat tertinggi kedua negara sejak Revolusi Islam 1979.
Vance menegaskan Washington telah menyerahkan proposal final dalam pembicaraan tersebut. “Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya,” ujarnya kepada wartawan.
Di sisi lain, Trump mengakui pembicaraan berjalan “baik” dan sebagian besar poin telah menemukan titik temu. Namun, isu program nuklir tetap menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan damai.
Trump juga menuduh Iran menempatkan ranjau laut di perairan Selat Hormuz dan menilai tindakan tersebut mengancam keselamatan pelayaran internasional. Pada Sabtu (11/04/2026), militer AS mengumumkan dua kapal perang telah melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi awal pembersihan ranjau.
Sebagai salah satu jalur distribusi minyak global terpenting, eskalasi di Selat Hormuz berpotensi memicu dampak besar terhadap harga energi dunia dan stabilitas geopolitik kawasan, sebagaimana diberitakan Kompas, Minggu (12/04/2026).
Penutupan jalur ini kini menjadi sorotan internasional karena dapat memengaruhi pasokan minyak ke berbagai negara, termasuk Asia dan Eropa, serta membuka risiko konflik militer yang lebih luas di Timur Tengah. []
Redaksi05

