NEW YORK – Proses hukum yang melibatkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di pengadilan federal Amerika Serikat kembali menyita perhatian dunia internasional. Dalam sidang yang digelar di New York, Senin (05/01/2025), Maduro secara tegas membantah seluruh dakwaan narkoterorisme yang dialamatkan kepadanya dan menyatakan dirinya tidak bersalah atas tuduhan yang diajukan jaksa Amerika Serikat.
Dalam persidangan di hadapan hakim federal Manhattan, Maduro menyampaikan bantahan langsung atas dakwaan tersebut. Ia juga mengklaim bahwa proses hukum yang menyeret dirinya ke pengadilan AS dilakukan secara tidak sah dan bertentangan dengan kedaulatan negaranya.
“Saya tidak bersalah, saya tidak bersalah,” demikian dilaporkan media AS, dikutip dari AFP, Selasa (06/01/2025).
“Saya masih presiden negara saya,” katanya.
Maduro bahkan menyebut dirinya telah “diculik” dari Venezuela, pernyataan yang menambah ketegangan dalam perkara yang sejak awal sarat muatan politik dan diplomatik. Klaim tersebut memperkuat posisi pemerintah Venezuela yang selama ini menolak legitimasi proses hukum Amerika Serikat terhadap kepala negara yang masih menjabat.
Selain Maduro, istrinya, Cilia Flores, juga hadir dalam proses hukum tersebut dan menyampaikan pembelaan serupa. Flores secara resmi menyatakan tidak bersalah atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Keterlibatan Flores dalam dakwaan terbaru menandai eskalasi serius dalam kasus ini, yang sebelumnya hanya menjerat Maduro sebagai terdakwa utama.
Jaksa Amerika Serikat menuduh Maduro memberikan dukungan terhadap perdagangan narkoba dalam skala besar, termasuk bekerja sama dengan Kartel Sinaloa dan kelompok kriminal Tren de Aragua. Dalam dakwaan, Maduro disebut mengatur jalur penyelundupan kokain lintas negara, menggunakan militer Venezuela untuk melindungi pengiriman narkotika, serta memberikan perlindungan terhadap kelompok bersenjata yang terlibat dalam jaringan kriminal tersebut.
Tak hanya itu, jaksa juga menuduh fasilitas kepresidenan digunakan sebagai bagian dari sistem distribusi narkotika internasional. Tuduhan tersebut menjadi dasar dakwaan narkoterorisme yang selama ini dikaitkan oleh otoritas AS dengan kepemimpinan Maduro.
Perkara ini semakin kompleks setelah dakwaan diperbarui pada Sabtu (03/01/2026) untuk memasukkan nama Cilia Flores sebagai terdakwa. Dalam dakwaan tambahan tersebut, Flores dituduh turut memerintahkan penculikan dan pembunuhan, tuduhan yang langsung dibantah oleh pihak pembela.
Kasus hukum ini dipandang sejumlah pengamat sebagai bagian dari konflik panjang antara Amerika Serikat dan pemerintahan Maduro. Washington selama bertahun-tahun menjatuhkan sanksi ekonomi dan politik terhadap Venezuela, dengan alasan pelanggaran demokrasi, hak asasi manusia, serta keterlibatan pejabat tinggi negara dalam kejahatan lintas negara.
Di sisi lain, pemerintah Venezuela secara konsisten menolak semua tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk kriminalisasi politik. Caracas menilai langkah hukum Amerika Serikat sebagai upaya melemahkan legitimasi pemerintahan Maduro di mata internasional.
Sidang di New York ini diperkirakan akan berlangsung panjang dan berpotensi menimbulkan dampak geopolitik yang signifikan, terutama terkait hubungan Amerika Serikat dengan Amerika Latin. Dunia internasional kini menyoroti bagaimana proses hukum ini akan berjalan, serta sejauh mana implikasinya terhadap stabilitas politik Venezuela dan dinamika diplomasi global. []
Diyan Febriana Citra.

