WASHINGTON – Ketegangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali meningkat menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas militer Amerika Serikat. Berdasarkan laporan media lokal yang dikutip pada Minggu (04/01/2026), Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal New York pada Senin (05/01/2026) pukul 12.00 waktu setempat atau 17.00 GMT (00.00 WIB).
Agenda persidangan tersebut menjadi sorotan internasional karena melibatkan kepala negara yang masih menjabat. Tidak hanya Maduro, istrinya, Cilia Flores, juga dijadwalkan hadir dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York. Informasi tersebut disampaikan oleh juru bicara pengadilan setempat.
Maduro dan Flores diketahui tiba di New York pada Sabtu (03/01/2026) malam. Sejak kedatangan mereka, pasangan tersebut ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn. Penahanan ini dilakukan menyusul operasi militer Amerika Serikat yang berlangsung pada akhir pekan lalu dan memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela serta pendukung Maduro.
Menurut otoritas Amerika Serikat, Maduro dan Flores menghadapi dakwaan federal yang serius, termasuk dugaan keterlibatan dalam jaringan perdagangan narkoba internasional. Selain itu, keduanya juga dituding menjalin kerja sama dengan kelompok yang telah ditetapkan Amerika Serikat sebagai organisasi teroris. Dakwaan ini menambah panjang daftar konflik hukum dan politik antara Washington dan Caracas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa proses hukum terhadap Maduro akan berjalan sesuai dengan sistem peradilan federal. Namun, langkah ini dinilai sejumlah pengamat sebagai eskalasi signifikan dalam tekanan politik dan hukum AS terhadap Venezuela, terutama karena menyasar langsung pemimpin tertinggi negara tersebut.
Di sisi lain, Nicolas Maduro secara tegas membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menyatakan bahwa dakwaan tersebut bermotif politik dan merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat untuk melemahkan pemerintahan Venezuela. Penolakan terhadap tuduhan itu juga digaungkan oleh sejumlah pejabat tinggi Venezuela.
Di Caracas, ibu kota Venezuela, reaksi penangkapan Maduro memicu respons cepat dari para pejabat pemerintah dan pendukungnya. Sejumlah pejabat menyerukan pembebasan Maduro dan Flores, serta menilai tindakan Amerika Serikat sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Seruan tersebut disampaikan melalui berbagai pernyataan resmi dan forum politik, yang menegaskan dukungan terhadap Maduro sebagai presiden yang sah.
Situasi ini berpotensi memperkeruh hubungan bilateral kedua negara dan memicu reaksi dari komunitas internasional. Beberapa negara di Amerika Latin dan sekutu Venezuela diperkirakan akan mencermati secara seksama jalannya proses hukum di New York, mengingat dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Sidang perdana di pengadilan federal New York akan menjadi penentu arah proses hukum selanjutnya. Selain itu, persidangan ini juga dipandang sebagai ujian bagi hubungan diplomatik global, terutama terkait batas kewenangan hukum lintas negara dan implikasinya terhadap kepala negara yang sedang menjabat. []
Diyan Febriana Citra.

