Operasi Pekat di Ciracas, Belasan Wanita Malam Diamankan

Operasi Pekat di Ciracas, Belasan Wanita Malam Diamankan

Bagikan:

JAKARTA – Aparat gabungan menggelar operasi penyakit masyarakat (pekat) di wilayah Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, pada Jumat (06/03/2026) malam. Dalam kegiatan tersebut, petugas mengamankan sejumlah perempuan yang diduga pekerja seks komersial (PSK) serta puluhan botol minuman keras (miras) dari beberapa titik yang menjadi sasaran penertiban.

Operasi yang dimulai sekitar pukul 22.15 WIB itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur aparat, mulai dari Pemerintah Kota Jakarta Timur, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI-Polri, Dinas Perhubungan (Dishub), hingga Petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S) dari Dinas Sosial.

Camat Ciracas Panangaran Ritonga mengatakan operasi tersebut menyasar sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat berkumpulnya aktivitas penyakit masyarakat, terutama di sekitar kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas.

“Untuk hasil minuman keras kita totalnya 29 botol berbagai jenis. Kalau wanita malam ada sekitar delapan sampai sepuluh orang terduga pekerja seks komersial (PSK), dua laki-laki diduga pengguna atau preman,” kata Camat Ciracas Panangaran Ritonga usai operasi pekan di Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (06/03/2026) malam.

Menurut Ritonga, kegiatan penertiban ini merupakan bagian dari langkah pemerintah daerah untuk menciptakan situasi yang kondusif di tengah masyarakat, terutama selama bulan suci Ramadhan. Ia menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kenyamanan warga yang tengah menjalankan ibadah.

“Kami melakukan operasi pekat di wilayah Kecamatan Ciracas secara gabungan,” ujar Ritonga.

Ia menjelaskan, penertiban dilakukan karena aktivitas yang dianggap sebagai penyakit masyarakat masih ditemukan di beberapa titik. Hal ini dinilai dapat mengganggu ketertiban umum, terutama pada malam hari ketika warga sedang menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.

“Ini dalam rangka cipta kondisi di bulan Ramadan supaya saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah tidak terlalu banyak gangguan, baik itu gangguan mata maupun hati,” ucap Ritonga.

Selain sebagai langkah pencegahan, operasi tersebut juga dilatarbelakangi oleh keluhan masyarakat yang sebelumnya ramai disampaikan melalui media sosial. Warga menyoroti masih adanya aktivitas yang diduga berkaitan dengan prostitusi serta peredaran minuman keras di sekitar kawasan GOR Ciracas meskipun telah memasuki bulan Ramadhan.

“Kemarin sempat ramai di media sosial bahwa di sekitar GOR Ciracas kegiatan penyakit masyarakat masih beraktivitas seperti biasa. Jadi memang perlu dilakukan kegiatan untuk memberikan efek jera,” jelas Ritonga.

Dalam operasi itu, petugas mengamankan sejumlah perempuan dan dua pria yang diduga berada di lokasi tersebut. Para perempuan yang diduga sebagai pekerja seks komersial selanjutnya akan diserahkan ke panti sosial untuk menjalani pembinaan lebih lanjut oleh Dinas Sosial.

“Para wanita ini akan segera kami bawa ke panti sosial untuk diserahkan penanganannya lebih lanjut,” ucap Ritonga.

Ia juga menjelaskan bahwa kawasan GOR Ciracas sebenarnya bukan merupakan lokasi resmi aktivitas prostitusi. Namun, keberadaan pedagang kaki lima di sepanjang tembok area tersebut sering kali memicu terbentuknya tempat berkumpul yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang dinilai melanggar ketertiban umum.

“Di sekitar GOR ini banyak pedagang kaki lima yang akhirnya menjadi tempat tongkrongan. Di situ ada yang menjajakan diri dan juga tersedia minuman keras,” ucap Ritonga.

Pemerintah Kecamatan Ciracas berencana meningkatkan intensitas operasi serupa dalam waktu mendatang guna memastikan kawasan tersebut tetap kondusif. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kembali munculnya aktivitas penyakit masyarakat, terutama selama bulan Ramadhan ketika warga membutuhkan suasana yang lebih tenang untuk menjalankan ibadah.

“Kegiatan penertiban seperti ini akan kami tingkatkan frekuensinya agar situasi tetap kondusif dan masyarakat bisa beribadah dengan tenang,” kata Ritonga. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Hotnews Nasional