AUSTIN – Aparat keamanan Amerika Serikat meningkatkan kewaspadaan setelah insiden penembakan massal mengguncang pusat kota Austin, Texas, pada Minggu (01/03/2026) dini hari. Peristiwa berdarah yang terjadi di kawasan hiburan ini menewaskan tiga orang dan menyebabkan sedikitnya 14 orang lainnya mengalami luka-luka. Penanganan kasus kini melibatkan berbagai lembaga penegak hukum federal dan lokal, termasuk Federal Bureau of Investigation (FBI), yang menyelidiki kemungkinan keterkaitan aksi tersebut dengan terorisme.
Insiden terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat di kawasan West Sixth Street, tepatnya di sekitar Buford’s Backyard Beer Garden, lokasi yang dikenal ramai pengunjung pada akhir pekan. Suasana hiburan berubah mencekam ketika seorang pria melepaskan tembakan ke arah warga yang sedang berada di teras bar dan di sepanjang jalan.
Pelaku penembakan telah diidentifikasi sebagai Ndiaga Diagne (53), warga negara Amerika Serikat kelahiran Senegal yang berdomisili di Pflugerville, Texas. Sejumlah sumber federal, sebagaimana dikutip media setempat, menyebutkan bahwa Diagne memperoleh kewarganegaraan AS melalui proses naturalisasi pada 2013.
Keterangan saksi mata dan aparat mengungkapkan bahwa sebelum menembak, pelaku sempat mengendarai sebuah SUV berukuran besar dan berputar-putar di sekitar lokasi kejadian. Pada satu momen, pelaku menghentikan kendaraannya, menyalakan lampu hazard, menurunkan jendela, lalu melepaskan tembakan menggunakan pistol ke arah pengunjung bar.
Situasi semakin memburuk ketika pelaku kembali mengemudi ke arah barat, memarkir kendaraannya, lalu turun dan kembali menembaki orang-orang yang sedang berjalan di area tersebut. Aparat kepolisian yang merespons cepat akhirnya melumpuhkan pelaku dengan tembakan di sebuah persimpangan tak jauh dari lokasi kejadian.
Penyelidikan lebih lanjut dilakukan FBI bersama Departemen Kepolisian Austin untuk mengungkap motif penyerangan. Dalam konferensi pers, agen khusus FBI dari kantor San Antonio, Alex Dorn, menyampaikan adanya indikasi yang mengarah pada unsur terorisme.
“Masih terlalu dini untuk menentukan motif yang tepat, tetapi ada indikator pada subjek dan kendaraannya yang menunjukkan potensi keterkaitan dengan terorisme,” ujar Dorn dalam konferensi pers, Minggu.
“Sekali lagi, masih terlalu dini untuk mengambil keputusan mengenai hal itu. Itulah mengapa kami menyelidikinya dengan sangat cermat bersama mitra kami dari departemen kepolisian Austin,” tambah Dorn.
Hingga kini, aparat federal diketahui masih mengeksekusi surat perintah penggeledahan di kediaman pelaku di Pflugerville. Selain itu, laporan internal dari Pusat Kontraterorisme Nasional yang ditinjau Reuters menyebutkan bahwa tersangka memiliki riwayat masalah kesehatan mental. Informasi ini menjadi salah satu fokus dalam pengembangan penyelidikan.
Insiden ini turut mendapat perhatian serius dari pemerintah federal. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah menerima laporan lengkap terkait peristiwa tersebut. Penembakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir, sehingga memperkuat kekhawatiran publik akan potensi eskalasi ancaman keamanan.
Berdasarkan data dari Gun Violence Archive, penembakan di Austin tercatat sebagai insiden penembakan massal ke-56 di Amerika Serikat sepanjang 2026, sekaligus menjadi yang paling mematikan hingga saat ini. Aparat menegaskan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan motif pelaku dan mencegah kejadian serupa terulang. []
Diyan Febriana Citra.

