JAKARTA – Fenomena percaloan tiket kembali mencoreng euforia olahraga nasional. Laga final futsal Piala Asia 2026 antara Indonesia melawan Iran yang digelar pada Sabtu (07/02/2026) tidak hanya menjadi panggung prestasi olahraga, tetapi juga memunculkan persoalan klasik berupa praktik jual beli tiket ilegal. Maraknya aktivitas calo di sekitar arena pertandingan memicu keluhan luas dari para suporter, hingga akhirnya menarik perhatian aparat kepolisian.
Polda Metro Jaya mengonfirmasi telah menerima laporan terkait praktik percaloan tiket tersebut. Kepolisian kini tengah mendalami dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan para calo, menyusul banyaknya aduan dari masyarakat yang merasa dirugikan. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan bahwa informasi mengenai aktivitas percaloan sudah masuk ke pihaknya dan sedang ditelusuri secara serius.
“Informasi ini sudah masuk ke kami. Kami akan mendalami apakah calo-calo ini juga memberikan dampak ya kepada para penonton,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Minggu (08/02/2026).
Menurut Budi, pihak kepolisian tidak serta-merta bertindak tanpa dasar hukum yang jelas. Aparat masih mengkaji kemungkinan jerat hukum yang dapat dikenakan terhadap para pelaku percaloan.
“Makanya kami lihat dulu (pidananya). Kalaupun ada regulasi ataupun yang dilanggar oleh mereka dengan mementingkan kepentingan keuntungan sendiri, pasti ada pelanggaran yang ada di situ,” tegasnya.
Lebih jauh, Budi menekankan bahwa pertandingan olahraga merupakan bagian dari hiburan publik yang seharusnya bisa diakses masyarakat secara adil. Ia menilai praktik yang justru menghalangi publik menikmati pertandingan tidak dapat dibenarkan secara etika maupun sosial.
“Bukan hanya sekedar sepak bola, futsal, basket, voli, ini merupakan komoditi hiburan bagi masyarakat. Jadi ya enggak boleh dihambat,” ungkap Budi.
Sebagai langkah lanjutan, Polda Metro Jaya menyatakan akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, penyelenggara pertandingan, serta pemangku kepentingan lainnya. Upaya ini dilakukan untuk menindaklanjuti persoalan percaloan secara lebih sistemik.
“Kementerian Olahraga, termasuk stakeholder yang ada, Polda Metro Jaya akan menampung informasi ini. Kami akan mendalami terkait tentang calo-calo yang ada, termasuk dengan pihak penyelenggara,” tambahnya.
Di sisi lain, suara kekecewaan datang langsung dari para suporter. Rafi (28), salah satu pendukung Timnas Futsal Indonesia, mengaku gagal mendapatkan tiket resmi meski telah mencoba membeli secara daring sejak awal pembukaan penjualan.
“Dari awal saya mau beli tiket itu saya masuk ke website 5 menit setelah dibuka, sudah habis. Bahkan banyak teman yang baru 1 menit sudah habis,” kata Rafi saat dijumpainya di GBK pada Sabtu malam.
Ironisnya, di sekitar kawasan GBK, Rafi justru melihat banyak calo menawarkan tiket secara terbuka. “Ternyata banyak banget calo yang jual tiket. Satu orang bisa jual sampai 5 atau 6 tiket,” ujarnya. Ia menyebut harga tiket melonjak tajam. “Harga tiket Lower seharusnya Rp 200.000, tapi dijual sampai Rp 900.000 sampai Rp 1 juta. Enggak masuk akal kan?” keluh Rafi.
Rafi menilai praktik ini sebagai bentuk penipuan terhadap publik. “Menurut saya ini sudah masuk penipuan. Polisi harus menindak. Mau Indonesia menang pun kita sudah kecewa,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Yuda (29). Ia menyebut tiket resmi habis, tetapi tiket versi calo justru mudah ditemukan. “Terima kasih panitia enggak memahalkan tiket, tapi sayangnya habis sama calo,” kata Yuda. Ia bahkan ditawari tiket VIP dengan harga tinggi. “Tadi saya ditawarin VIP dijual sampai Rp 1,5 juta,” ujarnya. Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan di lapangan. “Saya lihat banyak orang jualan tiket di depan polisi. Banyak polisi muda cuma bengong, main handphone,” kata Yuda. Menurut dia, praktik ini harus ditindak tegas. “Harusnya calo itu merugikan, masuk nipu. Polisi harus tindak tegas, bawa ke penjara biar enggak makin banyak calo,” tegas Yuda.
Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan percaloan tiket bukan sekadar masalah teknis penjualan, melainkan persoalan tata kelola event olahraga, pengawasan, dan perlindungan konsumen. Di tengah tingginya antusiasme publik terhadap olahraga nasional, praktik ilegal semacam ini berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pertandingan dan institusi yang terlibat di dalamnya. []
Diyan Febriana Citra.

