LIMA – Krisis politik di Peru kembali memasuki babak baru setelah Kongres Peru memutuskan memakzulkan Presiden interim Jose Jeri pada Selasa (17/02/2026). Keputusan tersebut menjadikan Jeri sebagai presiden ketujuh yang tersingkir dalam kurun waktu satu dekade terakhir, mempertegas rapuhnya stabilitas politik di negara Amerika Selatan itu.
Jeri, yang baru menjabat sejak Oktober 2025, dimakzulkan menyusul serangkaian tuduhan penyalahgunaan jabatan. Politikus berusia 39 tahun tersebut dituding terlibat dalam praktik perekrutan tidak wajar terhadap sejumlah perempuan di lingkaran pemerintahannya, serta dugaan gratifikasi yang berkaitan dengan seorang pengusaha asal China. Pemakzulan ini terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung pada 12 April 2026 mendatang, sehingga memicu kekhawatiran akan semakin besarnya ketidakpastian politik.
Jose Jeri sebelumnya naik ke kursi kepresidenan setelah menggantikan Dina Boluarte, yang juga dimakzulkan di tengah gelombang protes publik terkait isu korupsi dan meningkatnya kekerasan akibat kejahatan terorganisir. Saat itu, Jeri menjabat sebagai ketua parlemen unikameral Peru dan ditunjuk untuk menyelesaikan sisa masa jabatan Boluarte hingga Juli 2026. Secara konstitusional, Jeri dilarang mencalonkan diri dalam pemilu presiden berikutnya.
Kasus yang menjerat Jeri mencuat setelah laporan investigasi program televisi Cuarto Poder mengungkap dugaan bahwa lima perempuan memperoleh posisi pekerjaan secara tidak semestinya di kantor presiden dan Kementerian Lingkungan Hidup setelah bertemu dengannya. Jaksa bahkan menyebut jumlah perempuan yang terlibat mencapai sembilan orang. Pekan lalu, kejaksaan membuka penyelidikan untuk mengetahui “apakah kepala negara menggunakan pengaruh yang tidak semestinya” dalam proses penunjukan jabatan di pemerintahan.
Selain dugaan rekrutmen tidak wajar, Jeri juga diselidiki atas tuduhan “sponsor ilegal kepentingan” menyusul pertemuan rahasia dengan seorang pengusaha China yang memiliki hubungan bisnis dengan pemerintah. Meski demikian, Jeri membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan dirinya tidak bersalah.
Pemakzulan ini berlangsung di tengah situasi politik yang dinilai semakin tidak stabil. Sejumlah pengamat menilai langkah Kongres sarat dengan manuver politik, mengingat lebih dari 30 kandidat jumlah terbanyak sepanjang sejarah telah mendaftar untuk pemilu mendatang. Kandidat dari partai sayap kanan Popular Renewal yang memimpin jajak pendapat, Rafael Lopez Aliaga, termasuk tokoh yang paling vokal mendesak agar Jeri dilengserkan.
Kongres dijadwalkan memilih ketua parlemen baru pada Rabu (18/02/2026). Ketua parlemen terpilih nantinya secara otomatis akan menjabat sebagai presiden interim hingga Juli, sebelum presiden baru hasil pemilu dilantik. Namun, analis politik Augusto Alvarez meragukan proses tersebut dapat menghasilkan figur dengan legitimasi kuat. “Akan sulit menemukan pengganti dengan legitimasi politik di Kongres saat ini, dengan bukti-bukti mediokritas dan kecurigaan kuat terhadap korupsi yang meluas,” ujarnya kepada AFP menjelang pemungutan suara Selasa.
Sejak 2016, Peru telah mengalami pergantian kepemimpinan yang berulang, dengan sejumlah presiden dimakzulkan, diselidiki, atau bahkan divonis bersalah. Di sisi lain, negara ini juga tengah menghadapi lonjakan kasus pemerasan dan kekerasan, terutama terhadap sopir bus, yang menambah tekanan terhadap stabilitas politik dan keamanan nasional. Lonjakan kejahatan tersebut memperlihatkan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintahan sementara berikutnya dalam memulihkan kepercayaan publik dan ketertiban sosial. []
Diyan Febriana Citra.

