Putaran Kedua Negosiasi Damai Rusia-Ukraina Segera Digelar

Putaran Kedua Negosiasi Damai Rusia-Ukraina Segera Digelar

Bagikan:

ABU DHABI – Upaya internasional untuk mendorong tercapainya perdamaian dalam konflik Rusia–Ukraina kembali memasuki babak baru. Rusia secara resmi mengonfirmasi bahwa putaran kedua negosiasi damai antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat (AS) akan digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), mulai Rabu (04/02/2026). Pertemuan ini menjadi lanjutan dari dialog trilateral yang sebelumnya belum menghasilkan terobosan berarti.

Putaran kedua ini sempat mengalami penundaan dari jadwal awal yang direncanakan pada akhir pekan lalu. Penundaan tersebut terjadi akibat kendala koordinasi jadwal di antara ketiga pihak yang terlibat dalam perundingan. Moskwa menegaskan bahwa perubahan waktu bukan disebabkan faktor substansi negosiasi, melainkan persoalan teknis dan penyesuaian agenda diplomatik.

“Memang awalnya direncanakan untuk Minggu (01/02/2026) lalu, tetapi koordinasi tambahan dari jadwal ketiga pihak diperlukan,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, dikutip dari kantor berita AFP.

“Sekarang, pada Rabu-Kamis (05/02/2026), putaran kedua akan berlangsung. Akan diadakan di Abu Dhabi. Kami dapat mengonfirmasi hal itu,” ujarnya.

Konfirmasi dari pihak Rusia ini sejalan dengan pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sehari sebelumnya, yang lebih dahulu mengumumkan bahwa pertemuan akan berlangsung selama dua hari di ibu kota UEA. Abu Dhabi kembali dipilih sebagai lokasi perundingan karena dinilai sebagai wilayah netral dan memiliki posisi strategis dalam diplomasi internasional.

Putaran pembicaraan ini berlangsung dalam momentum yang sensitif, karena digelar kurang dari dua pekan menjelang peringatan empat tahun invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Konflik yang telah berlangsung lama tersebut telah menelan puluhan ribu korban jiwa, memaksa jutaan warga mengungsi, serta menghancurkan infrastruktur di wilayah timur dan selatan Ukraina.

Agenda utama dalam perundingan ini masih akan berfokus pada isu wilayah, yang selama ini menjadi titik paling krusial dan sensitif dalam konflik Rusia–Ukraina. Meskipun sejumlah poin dalam draf kesepakatan damai yang disusun Amerika Serikat dilaporkan telah mencapai kesepahaman awal, persoalan pembagian wilayah tetap menjadi hambatan terbesar.

Amerika Serikat terus berperan sebagai mediator utama dalam proses ini, dengan melakukan komunikasi intensif secara terpisah dengan Moskwa dan Kyiv. Washington mendorong terbentuknya kerangka kesepakatan damai yang diharapkan dapat menghentikan konflik berkepanjangan serta membuka jalan bagi stabilitas kawasan Eropa Timur.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perbedaan posisi kedua pihak masih sangat tajam. Rusia, yang saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, menuntut penguasaan penuh atas wilayah Donetsk di timur sebagai bagian dari kesepakatan damai. Moskwa bahkan telah memperingatkan akan merebut wilayah tersebut secara paksa apabila jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.

Di sisi lain, Ukraina menegaskan tidak akan menyetujui perjanjian yang berpotensi membuka peluang bagi agresi lanjutan Rusia di masa depan. Pemerintah Kyiv memandang bahwa penyerahan wilayah justru akan memperkuat posisi Moskwa secara strategis dan melemahkan kedaulatan negara. Sikap ini juga didukung oleh sebagian besar masyarakat Ukraina, yang menolak keras gagasan menyerahkan wilayah yang telah dipertahankan pasukan mereka selama bertahun-tahun.

Putaran pertama pembicaraan trilateral yang berlangsung di Abu Dhabi pada 23–24 Januari 2026 lalu juga berakhir tanpa hasil konkret. Hal itu memperlihatkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih panjang dan penuh tantangan.

Meski demikian, dimulainya kembali putaran kedua negosiasi ini tetap dipandang sebagai sinyal penting bahwa jalur diplomasi belum tertutup. Komunitas internasional berharap dialog ini dapat menjadi langkah awal menuju deeskalasi konflik, meskipun perbedaan kepentingan dan tuntutan politik di antara para pihak masih menjadi hambatan besar dalam mencapai perdamaian yang berkelanjutan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional