Putaran Ketiga Perundingan Rusia–Ukraina di Jenewa Masih Buntu

Putaran Ketiga Perundingan Rusia–Ukraina di Jenewa Masih Buntu

Bagikan:

JENEWA – Harapan akan terobosan damai kembali diuji ketika pejabat Rusia dan Ukraina melanjutkan putaran ketiga perundingan di Jenewa, Swiss, dengan mediasi Amerika Serikat. Dialog yang digelar Selasa (17/02/2026) itu berlangsung dalam suasana penuh kehati-hatian, hanya beberapa hari menjelang genap empat tahun invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.

Hari pertama perundingan disebut berlangsung tegang dan memakan waktu sekitar enam jam. Meski pembicaraan dijadwalkan berlanjut hingga Rabu (18/02/2026), belum terlihat tanda-tanda kompromi besar yang mampu mendekatkan kedua pihak pada kesepakatan damai. Media Rusia mengutip sumber anonim yang menyebut pertemuan dilakukan dalam format bilateral maupun trilateral dengan dinamika yang keras.

Delegasi Ukraina dipimpin Menteri Pertahanan Rustem Umerov. Ia menyampaikan bahwa pembahasan diarahkan pada hal-hal teknis dan realistis. Umerov menegaskan fokus timnya adalah “isu-isu praktis dan mekanisme solusi yang memungkinkan.” Namun sebelum perundingan dimulai, ia juga menurunkan ekspektasi publik dengan menyatakan delegasi Ukraina bekerja “tanpa harapan yang berlebihan.”

Di pihak lain, delegasi Rusia dipimpin Vladimir Medinsky, ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidato malamnya menyatakan kesiapan Kyiv untuk bergerak cepat jika ada peluang nyata menuju perdamaian.

“Kami siap bergerak cepat menuju kesepakatan yang layak untuk mengakhiri perang,” kata Zelenskyy. Ia juga mempertanyakan arah sikap Moskwa dengan mengatakan, “Pertanyaannya bagi Rusia adalah: sebenarnya apa yang mereka inginkan?”

Amerika Serikat mengirimkan utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner. Juru bicara militer AS menyebut sejumlah pejabat tinggi, termasuk Jenderal Alexus Grynkewich dan Sekretaris Angkatan Darat AS Dan Driscoll, dijadwalkan ikut dalam rangkaian diskusi terpisah dengan mitra Rusia dan Ukraina.

Namun, upaya diplomasi ini kontras dengan situasi di lapangan. Ukraina menuduh Rusia meluncurkan 29 rudal dan 396 drone hanya beberapa jam sebelum perundingan dimulai. Serangan tersebut melukai sedikitnya sembilan orang dan menyebabkan puluhan ribu warga di Odesa kehilangan pemanas dan pasokan air. Rusia, sebaliknya, mengklaim berhasil menangkis lebih dari 150 drone Ukraina, termasuk di wilayah Semenanjung Krimea, serta melaporkan kebakaran di sebuah depot minyak di wilayah selatan Rusia.

Masalah wilayah kembali menjadi batu sandungan utama. Rusia menuntut Ukraina menyerahkan sisa wilayah timur Donetsk yang belum dikuasai Moskwa. Tuntutan ini ditolak Kyiv. “Hambatan utama dalam semua ini tetap masalah wilayah Ukraina timur,” lapor jurnalis Osama Bin Javaid dari Jenewa.

Di dalam negeri Ukraina, kelelahan publik kian terasa. Warga Kyiv, Alina Yemets, mengungkapkan skeptisisme terhadap hasil perundingan. “Orang-orang benar-benar lelah,” katanya. “Sudah begitu banyak pertemuan seperti ini, begitu banyak pembicaraan tentang gencatan senjata. Keyakinan bahwa [ini akan menghasilkan] hasil yang baik tidak terlalu kuat.”

Putaran ketiga di Jenewa digelar setelah dua sesi sebelumnya di Abu Dhabi yang dinilai konstruktif, namun belum mampu melahirkan kesepakatan berarti. Dengan perang yang terus berlanjut dan tekanan internasional yang meningkat, perundingan ini kembali menegaskan betapa jalan menuju perdamaian masih panjang dan berliku. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional