TOKYO – Upaya meredakan ketegangan dan menjaga kesinambungan hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kembali dilakukan. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan komitmen untuk mendorong “pengembangan yang stabil” hubungan bilateral di tengah persiapan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada April mendatang.
Pertemuan kedua diplomat tersebut berlangsung di sela-sela Konferensi Keamanan Munich di Jerman, Jumat (13/02/2026). Ini merupakan pertemuan tatap muka kedua antara Rubio dan Wang sejak keduanya menjabat sebagai pejabat tertinggi diplomasi di negara masing-masing. Dialog tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah laporan kantor berita pemerintah China, Xinhua, yang menyebut keduanya sepakat memperkuat komunikasi dan kerja sama lintas sektor.
“Selama kita menjunjung kesetaraan, saling menghormati, dan timbal balik, kita dapat menemukan solusi untuk mengatasi kekhawatiran masing-masing dan mengelola perbedaan dengan tepat,” demikian Wang dikutip mengatakan kepada Rubio.
Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS belum merinci substansi pembicaraan yang berlangsung. Pertemuan itu digelar tidak lama setelah percakapan telepon antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping pada awal bulan ini. Dalam percakapan tersebut, Trump mengungkapkan sejumlah isu strategis yang dibahas, termasuk perdagangan, Taiwan, serta perkembangan situasi di Iran.
Menurut laporan media AS, Trump berencana melakukan kunjungan resmi ke Beijing pada pekan pertama April. Jika terealisasi, lawatan tersebut akan menjadi kunjungan pertamanya ke China sejak memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025. Agenda itu dipandang sebagai momentum penting untuk menjaga stabilitas hubungan bilateral yang kerap diwarnai dinamika tajam.
Selain pertemuan tingkat kepala negara, persiapan juga dilakukan di level ekonomi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dalam beberapa pekan mendatang. Pertemuan tersebut bertujuan mematangkan agenda dan substansi pembahasan menjelang pertemuan puncak.
Sebelumnya, Trump dan Xi telah menyepakati gencatan perang dagang selama satu tahun saat bertemu di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu. Kesepakatan itu mengembalikan hubungan dagang kedua negara ke status quo sebelumnya, sekaligus meredakan ketidakpastian pasar global. Dalam perkembangan terbaru, Trump menyebut China berencana meningkatkan pembelian produk pertanian AS, termasuk 20 juta ton kedelai pada musim berjalan.
Di tengah upaya stabilisasi hubungan, isu hak asasi manusia juga menjadi sorotan. Rubio pada awal pekan ini menyampaikan kritik keras atas vonis 20 tahun penjara terhadap aktivis pro-demokrasi Hong Kong, Jimmy Lai. Ia menyebut putusan tersebut sebagai kesimpulan yang tidak adil dan tragis dalam kasus yang mendapat perhatian internasional.
Lai (78), pendiri surat kabar pro-demokrasi Apple Daily yang kini telah ditutup, divonis bersalah atas tuduhan subversi dan kolusi dengan kekuatan asing berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan Beijing di Hong Kong pada 2020. Pada Desember lalu, Trump mengaku telah meminta Xi mempertimbangkan pembebasan Lai dengan alasan kondisi kesehatannya yang memburuk.
Rangkaian komunikasi intensif ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan mendasar dalam sejumlah isu, Washington dan Beijing tetap membuka ruang dialog. Stabilitas hubungan dinilai krusial, tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi perekonomian dan keamanan global secara luas. []
Diyan Febriana Citra.

