Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi
MOSKOW – Eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi menimbulkan dampak luas hingga ke sektor ekonomi domestik Indonesia, termasuk terhadap keberlanjutan program prioritas pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketegangan tersebut dinilai dapat memicu gangguan pada stabilitas harga minyak dunia, terutama jika konflik berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar sepertiga perdagangan minyak mentah global. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi dalam waktu singkat.
Dalam konteks ekonomi Indonesia, ketergantungan terhadap impor minyak mentah menjadi faktor krusial. Produksi minyak domestik saat ini berada pada kisaran 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan konsumsi nasional mencapai sekitar 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan tersebut menyebabkan Indonesia harus mengimpor dalam jumlah besar, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global.
Keterbatasan kapasitas kilang dalam negeri turut memperkuat posisi Indonesia sebagai price taker dalam pasar minyak internasional. Konsekuensinya, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada peningkatan subsidi energi, pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta kebutuhan realokasi anggaran pemerintah.
Dalam situasi tersebut, program-program yang tidak memiliki pengikatan hukum kuat, seperti MBG, berpotensi mengalami penyesuaian anggaran. Hal ini menjadi tantangan serius mengingat program tersebut dirancang untuk mengatasi persoalan gizi dan stunting pada anak-anak usia sekolah.
Dampak lanjutan dari kenaikan harga energi juga berpotensi memicu inflasi pada sektor logistik dan pangan. Biaya distribusi bahan makanan ke berbagai wilayah di Indonesia, khususnya daerah terpencil, akan meningkat. Dengan kondisi tersebut, efektivitas jangkauan program MBG dapat mengalami penurunan.
Kelompok masyarakat di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap masalah gizi, seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Aceh, diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik global dapat memberikan implikasi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat di negara yang tidak terlibat secara langsung dalam konflik tersebut.
Secara keseluruhan, dinamika geopolitik global menegaskan pentingnya mitigasi risiko dalam perencanaan kebijakan nasional, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan energi dan keberlanjutan program sosial. Stabilitas harga energi global menjadi faktor kunci dalam menjaga kesinambungan program-program prioritas pemerintah di dalam negeri.[]

