KYIV – Harapan akan tercapainya perdamaian di Ukraina kembali terguncang setelah Rusia melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal dan pesawat tak berawak pada Kamis (28/08/2025). Serangan ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan keraguan baru atas inisiatif diplomatik yang tengah diupayakan dunia, termasuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sedikitnya 21 orang meninggal dunia di Kyiv, ibu kota Ukraina, sebagaimana disampaikan pejabat setempat. Wali Kota Vitali Klitschko menggambarkan serangan itu sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir. Selain korban tewas, 63 orang dilaporkan luka-luka, sementara puluhan bangunan di berbagai distrik hancur akibat hantaman rudal.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menuturkan Trump merasa kecewa dengan perkembangan tersebut. “Presiden ingin perang ini berakhir, tetapi kedua negara belum siap mengakhirinya,” ujarnya, menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih terjal.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun menilai serangan itu sebagai respons Moskow terhadap upaya diplomatik. “Rusia memilih rudal balistik, bukan meja perundingan,” tulisnya di X. Zelensky juga mendesak agar sanksi internasional terhadap Rusia segera diperketat.
Laporan militer Ukraina menyebutkan serangan terjadi di 13 lokasi berbeda, termasuk fasilitas energi penting yang menyebabkan pemadaman listrik massal. Pesawat nirawak Rusia juga menembus hingga ke wilayah belakang garis pertahanan Ukraina. Sebagai balasan, militer Ukraina melancarkan serangan ke sejumlah kilang minyak Rusia.
Utusan khusus AS untuk Ukraina, Keith Kellogg, menegaskan bahwa target serangan Rusia bukan hanya infrastruktur militer, tetapi juga area sipil. “Kereta api, kantor misi Uni Eropa, hingga British Council ikut menjadi sasaran,” ungkapnya. Pernyataan ini segera memicu reaksi keras dari Uni Eropa (UE) dan Inggris, yang langsung memanggil utusan Rusia untuk menyampaikan nota protes.
Presiden Komisi UE, Ursula von der Leyen, bahkan mengungkapkan betapa dekatnya ancaman itu dengan lembaga internasional. “Dua rudal menghantam dekat kantor Uni Eropa hanya berselang 20 detik,” ujarnya. Ia menambahkan UE akan mempercepat pengesahan paket sanksi ke-19 serta menggunakan aset Rusia yang dibekukan untuk membantu Ukraina.
Konteks serangan ini semakin menyoroti rapuhnya diplomasi. Hanya dua pekan sebelumnya, Trump telah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska dalam pertemuan yang semula diharapkan bisa menjadi titik awal deeskalasi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan justru kebalikannya.
“Putin membunuh anak-anak dan warga sipil serta menyabotase harapan perdamaian,” tegas Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melalui X.
Meski Kremlin membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan warga sipil, catatan Ukraina menunjukkan ribuan korban sipil telah jatuh sejak invasi penuh Rusia dimulai pada Februari 2022. Dengan kondisi terbaru ini, perang yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun tampaknya masih jauh dari titik akhir. []
Diyan Febriana Citra.