BAHRAIN – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan drone yang diduga diluncurkan Iran menghantam Pulau Sitra di Bahrain pada Minggu (08/03/2026) malam. Insiden tersebut menyebabkan puluhan orang mengalami luka-luka dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat geopolitik dunia.
Laporan otoritas setempat menyebutkan sedikitnya 32 orang mengalami luka akibat serangan tersebut. Beberapa korban bahkan dilaporkan dalam kondisi serius dan harus mendapatkan penanganan medis intensif.
Kementerian Kesehatan Bahrain menyampaikan bahwa sejumlah korban yang mengalami luka berat termasuk anak-anak. Di antara korban terdapat seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang mengalami cedera serius pada bagian kepala dan mata.
“Korban luka salah satunya remaja putri 17 tahun yang menderita cedera di kepala dan mata. Ada pula bayi berusia dua bulan,” kata Kementerian Kesehatan Bahrain, seperti dikutip dari AFP.
Serangan yang terjadi di Pulau Sitra tersebut diyakini berkaitan dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Aksi militer Iran disebut sebagai respons terhadap serangan gabungan yang sebelumnya dilakukan oleh kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran.
Sebagai bentuk balasan, Iran dilaporkan menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah. Bahrain sendiri menjadi salah satu negara yang memiliki fasilitas militer penting bagi pasukan AS.
Di negara tersebut, militer Amerika Serikat menempatkan dua pangkalan strategis, yakni pangkalan laut dan pangkalan udara. Kedua fasilitas tersebut selama ini berperan penting dalam mendukung operasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Serangan drone yang mengenai wilayah Pulau Sitra menimbulkan kepanikan di kalangan warga setempat. Selain menyebabkan korban luka, insiden tersebut juga meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan meluasnya konflik bersenjata di kawasan yang melibatkan sejumlah negara.
Situasi keamanan di Timur Tengah dilaporkan semakin memanas setelah rangkaian ledakan juga terdengar di beberapa negara lain. Pada Senin (09/03/2026), suara ledakan dilaporkan terdengar di ibu kota Qatar, Doha.
Selain Qatar, pemerintah Arab Saudi dan Kuwait juga melaporkan adanya serangan baru yang diduga berasal dari Iran. Ketiga negara tersebut diketahui memiliki hubungan militer erat dengan Amerika Serikat dan menjadi lokasi sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Meningkatnya eskalasi konflik membuat sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif. Salah satunya dilakukan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi.
Kedutaan tersebut mengeluarkan imbauan kepada seluruh staf non-darurat beserta anggota keluarganya agar segera meninggalkan wilayah Arab Saudi. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.
Di tengah situasi yang semakin tegang, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah menyampaikan peringatan kepada negara-negara Arab terkait kemungkinan penggunaan wilayah mereka sebagai basis serangan terhadap Iran.
Dalam pernyataannya pada akhir pekan lalu, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika negara lain digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang negaranya.
Ia memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi yang melibatkan wilayah negara lain sebagai basis operasi militer terhadap Iran.
Pernyataan tersebut kini menjadi sorotan setelah sejumlah negara di kawasan Teluk yang memiliki fasilitas militer Amerika Serikat dilaporkan menjadi target serangan. Situasi ini semakin memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan di Timur Tengah di tengah persaingan geopolitik yang semakin tajam. []
Diyan Febriana Citra.

