Serangan Israel ke Lebanon Picu Iran Tutup Selat Hormuz

Serangan Israel ke Lebanon Picu Iran Tutup Selat Hormuz

Bagikan:

TEHERAN – Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran pada Rabu (08/04/2026) memicu gelombang ketegangan baru di Timur Tengah dan mengancam rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, sekaligus kembali menghambat salah satu jalur perdagangan minyak dan gas paling vital di dunia.

Penutupan jalur strategis tersebut langsung berdampak pada lalu lintas maritim global. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di kawasan itu berpotensi memicu tekanan pada pasar energi internasional.

Ketegangan meningkat setelah Iran menilai Washington telah melanggar sejumlah poin dalam kerangka gencatan senjata, terutama terkait serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon serta aktivitas pesawat nirawak yang diduga memasuki wilayah udara Iran.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai rencana pembicaraan damai menjadi sulit dilanjutkan karena tiga dari 10 syarat Teheran disebut telah dilanggar. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa penghentian perang di Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan.

“Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola sekarang berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” kata Araghchi, sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis, (09/04/2026).

Di sisi lain, Gedung Putih mendesak agar selat segera dibuka kembali demi menjaga jalannya perundingan damai dan kestabilan pasokan energi global. Pemerintah AS juga menolak rencana pungutan biaya transit bagi kapal yang melintas di jalur tersebut.

Meski gencatan senjata telah diumumkan, serangan bersenjata masih terjadi di sejumlah titik. Israel dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon dengan menyasar lebih dari 100 lokasi dalam waktu singkat, termasuk kawasan komersial dan permukiman di Beirut. Korban jiwa pada Rabu disebut mencapai sedikitnya 182 orang, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik pecah.

Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps / IRGC) juga mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan Israel terkait eskalasi di Lebanon.

“Kami mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian, dan kepada sekutu Zionisnya, algojonya. Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera berhenti, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan tanggapan,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan.

Penutupan kembali Selat Hormuz diperkirakan akan menahan banyak kapal dagang dan tanker minyak, memperbesar tekanan terhadap ekonomi global. Situasi ini membuat dunia menunggu langkah diplomatik berikutnya dari AS, Iran, serta mediator regional guna mencegah konflik berkembang lebih luas. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang