KABUL – Eskalasi konflik antara Pemerintah Taliban Afghanistan dan Pemerintah Pakistan kian memburuk setelah serangan udara pada Senin (16/03/2026) malam menewaskan ratusan orang di Kabul. Serangan yang diperselisihkan kedua pihak ini menyoroti risiko besar terhadap keselamatan warga sipil di tengah konflik yang disebut telah memasuki fase “perang terbuka”.
Ledakan keras mengguncang ibu kota Afghanistan sekitar pukul 21.00 waktu setempat saat warga tengah beraktivitas usai berbuka puasa Ramadan. Situasi mencekam berlangsung hampir satu jam, ditandai suara tembakan dari sistem pertahanan udara sebelum akhirnya mereda sekitar pukul 22.00.
Pemerintah Taliban melalui juru bicaranya, Zabihullah Mujahid, menuding serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan Afghanistan dan menyasar fasilitas sipil. Ia menyebut tindakan itu sebagai “kejahatan” dan “tindakan tidak manusiawi”.
Di sisi lain, Pemerintah Pakistan membantah tudingan tersebut. Melalui Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan, mereka menegaskan operasi dilakukan secara presisi dengan target instalasi militer dan infrastruktur pendukung terorisme.
“Penargetan Pakistan dilakukan secara presisi dan hati-hati untuk memastikan tidak ada kerusakan tambahan,” kata kementerian tersebut.
Lokasi yang diserang, menurut klaim Pakistan, mencakup fasilitas penyimpanan amunisi serta peralatan militan yang terkait dengan kelompok yang mereka sebut sebagai Fitna al-Khawarij. Selain di Kabul, serangan juga disebut menyasar wilayah Provinsi Nangarhar.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Tim AFP yang tiba di lokasi mendapati bangunan pusat rehabilitasi pecandu narkoba dalam kondisi hancur dan terbakar. Puluhan jenazah terlihat, sementara korban luka dievakuasi ke berbagai rumah sakit.
Direktur organisasi non-pemerintah Emergency di Afghanistan, Dejan Panic, menyebut pihaknya menerima tiga jenazah dan merawat 27 korban luka. Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan Taliban, Sharafat Zaman, mengungkap angka korban jauh lebih tinggi.
“Laporan awal menunjukkan sejauh ini kami memiliki lebih dari 200 syuhada dan lebih dari 200 orang terluka,” ujarnya sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa, (17/03/2026).
Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, bahkan menyebut jumlah korban tewas mencapai 400 orang, dengan 250 lainnya mengalami luka-luka.
Kesaksian dari warga di lokasi turut memperkuat gambaran situasi saat serangan terjadi. Seorang penjaga keamanan pusat rehabilitasi, Omid Stanikzai, mengaku mendengar suara jet sebelum ledakan terjadi.
“Saya mendengar suara jet yang berpatroli,” katanya. “Ada unit militer di sekitar kami. Ketika unit-unit ini menembak ke arah jet, jet itu menjatuhkan bom dan kebakaran pun terjadi,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh korban merupakan warga sipil.
Konflik antara Afghanistan dan Pakistan sendiri telah meningkat sejak Oktober tahun lalu. Pemerintah Pakistan menuduh Taliban melindungi kelompok militan yang kerap melancarkan serangan lintas batas. Tuduhan itu dibantah Taliban yang menyebut persoalan tersebut sebagai urusan internal Pakistan.
Situasi memanas kembali dalam beberapa pekan terakhir hingga kedua pihak saling melancarkan serangan. Pakistan bahkan menyebut konflik ini sebagai “perang terbuka”, sementara Afghanistan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan negara.
Upaya mediasi internasional sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan. Utusan khusus China telah melakukan diplomasi selama sepekan, namun dinilai belum mampu meredakan ketegangan.
Pakar Asia Selatan dari Atlantic Council, Michael Kugelman, menilai konflik berpotensi terus berlanjut.
“Negara-negara Teluk Arab yang sebelumnya memediasi kini sibuk dengan perang mereka sendiri. Mediator lain, termasuk China, memiliki keberhasilan terbatas,” ujarnya.
“Pakistan tampaknya berniat terus menyerang target di Afghanistan, sementara Taliban bertekad membalas, baik dengan operasi di pos perbatasan maupun taktik asimetris seperti peluncuran drone atau dukungan serangan militan di wilayah Pakistan,” tambahnya. “Tidak ada jalan keluar yang terlihat.”
Dampak konflik ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan. Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sekitar 115.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran. Selain itu, sedikitnya 75 warga sipil dilaporkan tewas sejak eskalasi meningkat pada akhir Februari.
Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP) juga mulai menyalurkan bantuan pangan darurat kepada lebih dari 20.000 keluarga terdampak. Namun, mereka memperingatkan bahwa ketidakstabilan berkepanjangan dapat mendorong jutaan orang ke jurang kelaparan. []
Redaksi05

