BEIRUT – Eskalasi konflik kembali meningkat setelah serangkaian serangan udara mengguncang wilayah selatan ibu kota Lebanon pada Senin (23/03/2026) hingga Selasa (24/03/2026) dini hari, bersamaan dengan operasi darat yang berujung pada penangkapan dua anggota kelompok Hizbullah oleh militer Israel.
Ketegangan ini dipicu oleh operasi militer Israel yang menargetkan sejumlah titik strategis di pinggiran selatan Beirut, termasuk kawasan Hazmieh. Di saat bersamaan, militer Israel mengklaim berhasil menggagalkan rencana serangan rudal dengan menangkap dua anggota Pasukan Radwan, unit komando elite Hizbullah, di wilayah Lebanon Selatan.
“Setelah teridentifikasi, para teroris tersebut menyerah. Mereka ditangkap oleh pasukan dan dipindahkan ke wilayah Israel untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tulis pernyataan militer Israel, sebagaimana diberitakan Afp, Senin, (23/03/2026).
Serangan udara disebut menyasar target yang dikaitkan dengan sayap operasi luar negeri Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran. Salah satu titik yang terdampak berada di kawasan Hazmieh, wilayah yang berdekatan dengan pusat pemerintahan dan kawasan diplomatik.
Wali Kota Hazmieh, Jean Asmar, mengungkapkan bahwa serangan tersebut menghantam sebuah unit apartemen yang dihuni keluarga pengungsi dan menyebabkan korban jiwa. Sementara itu, di wilayah lain, ketegangan turut meluas ke Lebanon Selatan, khususnya di Naqura.
Di kawasan tersebut, Pasukan Interim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon / UNIFIL) melaporkan markas mereka terkena proyektil yang diduga berasal dari “aktor non-negara”. Insiden ini menambah kompleksitas konflik yang melibatkan berbagai pihak di wilayah tersebut.
Sebagai respons, Hizbullah menyatakan telah melancarkan lebih dari 50 serangan balasan yang menargetkan posisi militer Israel di wilayah utara Israel dan Lebanon Selatan. Serangan balasan ini memperlihatkan intensitas konflik yang terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut. “Kami akan terus menyerang, baik di Iran maupun di Libanon,” tegas Netanyahu.
Pernyataan senada juga disampaikan juru bicara militer Israel, Ella Waweya, yang menyebut konflik dengan Hizbullah masih berada pada tahap awal. “pertempuran melawan Hizbullah… baru saja dimulai.”
Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengungkapkan kekhawatiran atas keterlibatan pihak eksternal dalam konflik tersebut. Ia menyatakan bahwa Garda Revolusi Iran “sayangnya… mengelola operasi militer di Lebanon.”
Sejauh ini, rangkaian operasi militer Israel dilaporkan telah menyebabkan sedikitnya 1.039 korban jiwa di Lebanon, serta kerusakan infrastruktur strategis seperti jembatan di atas Sungai Litani yang diduga digunakan untuk kepentingan militer kelompok bersenjata.
Eskalasi ini memunculkan kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik regional, terutama dengan meningkatnya intensitas serangan dan keterlibatan berbagai aktor bersenjata di kawasan tersebut. []
Redaksi05

