Syuting Film Lisa BLACKPINK di Kota Tua, Lalin Direkayasa

Syuting Film Lisa BLACKPINK di Kota Tua, Lalin Direkayasa

Bagikan:

JAKARTA – Aktivitas industri perfilman internasional kembali menyentuh Ibu Kota. Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, menjadi salah satu lokasi syuting film laga terbaru yang melibatkan penyanyi dunia asal Korea Selatan Lisa BLACKPINK dan aktor ternama Ma Dong-seok. Setelah sebelumnya pengambilan gambar dilakukan di Bandung, Jawa Barat, proses produksi kini berlanjut ke Jakarta dengan skala kegiatan yang lebih besar dan berdampak langsung pada mobilitas masyarakat.

Kehadiran kru produksi film tersebut di kawasan bersejarah Kota Tua membuat aparat kepolisian dan pemerintah daerah harus menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga kelancaran lalu lintas. Rekayasa lalu lintas pun diberlakukan di sejumlah ruas jalan demi mencegah kemacetan, terutama di sekitar titik syuting yang berada di area padat wisatawan dan aktivitas perdagangan.

Kanit Lantas Tamansari Polres Metro Jakarta Barat, AKP Teguh A, menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas telah mulai diterapkan sejak Rabu, 28 Januari 2026. Pada hari tersebut, proses syuting berlangsung di Gedung Jasindo, kawasan Kota Tua, tepatnya di area samping kiri Cafe Batavia.

Teguh menyebutkan, pengalihan arus sempat dilakukan di Jalan Kunir untuk mendukung kelancaran aktivitas produksi film. Namun, setelah kegiatan syuting pada titik tersebut selesai, arus lalu lintas kembali dinormalkan.

“Diadakan pengalihan arus di Jalan. Kunir Jakarta. Untuk saat ini ruas Jalan Kunir Jakarta Barat sudah dinormalkan kembali. Kegiatan syuting tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemprov DKI,” kata Teguh dalam keterangannya, Jumat, 30 Januari 2026.

Menurut kepolisian, dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi faktor penting dalam pengaturan lokasi syuting yang melibatkan produksi berskala internasional. Hal ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk membuka ruang bagi industri kreatif global, sekaligus menjaga keteraturan aktivitas publik.

Namun, aktivitas produksi film ini belum selesai. Kepolisian memastikan bahwa rekayasa lalu lintas lanjutan masih akan diberlakukan pada pekan depan, seiring berlanjutnya proses syuting di titik-titik lain di wilayah Jakarta Barat.

“Sesuai rencana tanggal 1 sampai 7 Februari 2026 akan ada pengalihan arus di Jalan Cengkeh wilayah Jakarta Barat,” tuturnya.

Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi dini terhadap potensi kepadatan kendaraan, mengingat kawasan Kota Tua merupakan pusat wisata sejarah, kuliner, dan transportasi yang setiap hari dipadati masyarakat serta wisatawan lokal maupun mancanegara.

Secara teknis, rekayasa lalu lintas dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Untuk periode 28–29 Januari 2026, pengaturan lalu lintas diberlakukan di Jalan Kunir dan Kemukus pada pukul 15.00 hingga 06.00 WIB. Penutupan dilakukan di ruas Jalan Kalibesar Barat–Jalan Kunir, sementara kendaraan dan Transjakarta dari arah Kalibesar Barat dialihkan ke Jalan Kunir Dalam. Selain itu, sistem satu arah diberlakukan menuju Kampung Bandan dan Jalan Kemukus (Stasiun Beos), serta dilakukan pembukaan MCB (Median Concrete Barrier) di Jalan Kemukus.

Selanjutnya, pada 1–7 Februari 2026, rekayasa akan diperluas ke Jalan Nelayan, Jalan Cengkeh, dan Jalan Kalibesar Barat. Arus kendaraan dari sisi utara Cengkeh dialihkan ke Jalan Nelayan (Jembatan Intan), sementara pengendara dari Jembatan Intan diarahkan ke Jalan Kalibesar Barat. Pengguna jalan dari arah Tiang Bendera diarahkan belok kiri ke Jalan Ekor Kuning, serta dilakukan penutupan total di Jalan Cengkeh 2.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk sementara waktu menghindari kawasan Kota Tua dan menggunakan jalur alternatif guna mengurangi kepadatan lalu lintas. Selain sebagai langkah pengamanan, rekayasa ini juga bertujuan memastikan proses syuting berjalan lancar tanpa mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Kegiatan syuting film internasional ini sekaligus menunjukkan meningkatnya kepercayaan industri perfilman global terhadap Indonesia, khususnya Jakarta, sebagai lokasi produksi film berskala besar. Kota Tua yang memiliki nilai historis tinggi kini kembali menjadi panggung aktivitas industri kreatif dunia. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Hotnews Nasional