JAKARTA – Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengembalikan ruang publik yang selama bertahun-tahun terabaikan mulai terlihat di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sejumlah tiang monorel peninggalan proyek mangkrak kini satu per satu dibongkar demi memulihkan fungsi trotoar dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki.
Hingga Sabtu (17/01/2026) pagi, tercatat tiga dari total 109 tiang monorel di sepanjang ruas jalan tersebut telah dibongkar. Bekas struktur beton yang sebelumnya berdiri kokoh kini telah diratakan dengan permukaan trotoar. Area bekas tiang tampak ditandai dengan garis peringatan hitam dan kuning sebagai pengaman sementara. Dua titik bekas tiang bahkan telah ditutup dengan pembatas jalan beton, sementara satu titik lainnya masih dalam tahap pembersihan lanjutan.
Penataan ini menjadi langkah awal Pemprov DKI Jakarta dalam menghapus jejak proyek transportasi yang tak pernah beroperasi dan selama ini menghambat akses pedestrian. Di beberapa titik, petugas Dinas Bina Marga terlihat aktif menutup bekas galian dengan pasir dan keramik agar trotoar dapat kembali digunakan masyarakat.
Tak hanya tiang utama, dua tiang pendek yang berada di area trotoar juga telah dibongkar. Salah satunya terletak di dekat lift menuju Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Setiabudi dan kini sudah bersih dari sisa struktur beton. Namun, masih terdapat satu titik pembongkaran yang belum sepenuhnya diratakan. Potongan tiang tampak membengkok dan bagian tengahnya sementara diisi dengan tumpukan batu sebagai pengaman.
Mobil operasional Dinas Bina Marga tampak terparkir di tepi jalan dengan pembatas kerucut oranye di sekitarnya. Kehadiran kendaraan petugas dan perlengkapan kerja ini menandai bahwa proses penataan masih terus berlangsung secara bertahap.
Meski ada aktivitas pembongkaran, arus lalu lintas di Jalan HR Rasuna Said terpantau relatif lancar. Jalan tersebut terbagi menjadi tiga ruas, yakni jalur kanan khusus Transjakarta, jalur tengah sebagai jalur cepat, serta jalur kiri untuk kendaraan lambat. Minimnya penggunaan jalur lambat disebabkan adanya pembatas dan aktivitas petugas di sisi jalan.
Pembongkaran tiang monorel ini direncanakan berlangsung setiap malam selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Strategi pengerjaan malam hari dipilih untuk meminimalkan gangguan lalu lintas di salah satu kawasan bisnis tersibuk di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa penjadwalan malam hari menjadi solusi agar aktivitas warga tetap berjalan normal.
“Pengerjaannya akan dilakukan malam hari. Dengan demikian tidak ada penutupan jalur, dan mudah-mudahan saya sudah minta ke Bina Marga dan Perhubungan untuk pengaturan lalu lintas agar tak macet. Karena ini jalan utama kita,” ucap Pramono saat menyaksikan langsung pembongkaran, Rabu pagi.
Pembongkaran seluruh 109 tiang monorel ini bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari penataan ulang kawasan secara menyeluruh. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan rencana lanjutan berupa perbaikan badan jalan, revitalisasi saluran air, peningkatan kualitas jalur pedestrian, penambahan penerangan jalan umum (PJU), hingga pembangunan ruang terbuka hijau dan taman kota.
Dengan langkah ini, kawasan HR Rasuna Said diharapkan tidak lagi identik dengan proyek terbengkalai, melainkan menjadi koridor perkotaan yang ramah bagi pejalan kaki, tertata, dan fungsional. Penataan ini sekaligus menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mengembalikan ruang kota kepada masyarakat setelah bertahun-tahun terhalang infrastruktur yang tak kunjung dimanfaatkan. []
Diyan Febriana Citra.

