JAKARTA — Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengonfirmasi keberhasilan pembebasan empat warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya diculik di wilayah perairan Gabon, Afrika Tengah. Keempat WNI tersebut merupakan anak buah kapal (ABK) yang menjadi korban pembajakan kapal pada awal Januari 2026.
Proses pembebasan berlangsung setelah upaya negosiasi yang dilakukan berbagai pihak selama hampir dua bulan. TNI menyebutkan bahwa kesepakatan dengan para pembajak akhirnya tercapai pada awal Maret 2026.
Kabidpeninter Puspen TNI Letkol Inf Dedi Akhiruddin memastikan keempat WNI kini telah berada dalam kondisi aman setelah berhasil dilepaskan dari para penculik.
“Keempat WNI kini berhasil dibebaskan,” kata Kabidpeninter Puspen TNI Letkol Inf Dedi Akhiruddin, dalam keterangannya, Jumat (06/03/2026).
Menurut Dedi, setelah dibebaskan para korban langsung diarahkan menuju Nigeria. Atase Pertahanan Republik Indonesia (Athan RI) di Abuja kemudian menjemput mereka sesaat setelah tiba di Lagos pada Jumat (06/03/2026) waktu setempat.
Kehadiran perwakilan Indonesia tersebut bertujuan untuk memastikan para ABK mendapatkan perlindungan sekaligus penanganan awal setelah melalui masa penyanderaan yang cukup lama.
Dedi menjelaskan, proses pembebasan tidak berlangsung singkat. Negosiasi dengan kelompok pembajak dilakukan secara intensif melalui berbagai jalur komunikasi hingga akhirnya tercapai kesepakatan yang memungkinkan para sandera dilepaskan.
“Pembebasan para ABK tersebut terjadi setelah melalui proses negosiasi dengan para pembajak yang dilakukan cukup panjang hingga terjadi kesepakatan yang membuahkan hasil pada 3 Maret 2026,” tambah Dedi.
Empat WNI yang berhasil dibebaskan masing-masing bernama Abdul Ajis, Aditia Permana, Mohamad Fardan Mubarok, dan Eka Trenggana. Mereka merupakan bagian dari sembilan awak kapal yang dilepaskan oleh para pembajak dalam proses negosiasi tersebut.
Setelah tiba di Lagos, Nigeria, para ABK WNI untuk sementara ditempatkan di fasilitas penampungan yang aman. Lokasi tersebut disiapkan untuk memastikan kondisi para korban tetap terjaga sebelum dipulangkan ke Tanah Air.
Selain itu, mereka juga dijadwalkan menjalani pemeriksaan kesehatan guna mengetahui kondisi fisik maupun psikologis setelah mengalami masa penyanderaan. Pemeriksaan ini dinilai penting untuk memastikan para korban tidak mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan selama berada dalam kendali para pembajak.
Upaya pembebasan para ABK tersebut melibatkan kerja sama berbagai pihak, baik dari unsur pemerintah Indonesia maupun pihak internasional. Koordinasi dilakukan secara intensif untuk memfasilitasi komunikasi dengan kelompok pembajak sekaligus memastikan keselamatan para korban.
Dedi menyebutkan bahwa keberhasilan pembebasan ini merupakan hasil kolaborasi antara Atase Pertahanan RI di Abuja, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abuja, Kedutaan Besar China di Gabon, perusahaan pelayaran IB Fish, Atase Pertahanan China di Abuja, serta Ketua Komunitas Tiongkok di Lagos.
Sinergi berbagai pihak tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat proses negosiasi hingga tercapai kesepakatan yang memungkinkan para sandera dilepaskan dengan selamat.
Peristiwa penculikan terhadap awak kapal di wilayah perairan Afrika Barat memang kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan tersebut dikenal memiliki risiko tinggi terhadap aksi pembajakan kapal yang menyasar kapal-kapal niaga maupun kapal penangkap ikan.
Pemerintah Indonesia sendiri terus meningkatkan koordinasi diplomatik dan keamanan guna melindungi warga negara Indonesia yang bekerja di sektor pelayaran internasional. Upaya tersebut termasuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara sahabat serta organisasi internasional untuk menangani kasus pembajakan di laut.
Setelah seluruh proses pemeriksaan kesehatan dan administrasi selesai, para ABK WNI tersebut direncanakan akan segera dipulangkan ke Indonesia. []
Diyan Febriana Citra.

