Tompi Tegaskan Tak Ada Masalah Pribadi dengan Pandji

Tompi Tegaskan Tak Ada Masalah Pribadi dengan Pandji

Bagikan:

JAKARTA – Musisi yang juga berprofesi sebagai dokter bedah plastik, Tompi, menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan terhadap materi stand-up comedy komika Pandji Pragiwaksono tidak dilandasi persoalan pribadi. Tompi menekankan bahwa hubungannya dengan Pandji selama ini berjalan baik, meski keduanya kerap memiliki pandangan politik yang tidak selalu sejalan.

Pernyataan tersebut disampaikan Tompi menanggapi materi pertunjukan stand-up comedy spesial ke-10 Pandji Pragiwaksono bertajuk “Mens Rea”, yang ditayangkan di sebuah platform streaming. Dalam salah satu segmen, Pandji menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut tampak seperti orang mengantuk.

Tompi menyampaikan klarifikasinya saat memberikan keterangan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (05/01/2025). Ia menilai penting untuk meluruskan persepsi publik agar kritik yang ia sampaikan tidak dimaknai sebagai konflik personal.

“Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa kali urusan politik kita tidak selalu satu ‘track‘, tapi kita temenan. Saya baik-baik aja sama dia, dan enggak punya personal issue, tidak ada urusan pribadi,” kata Tompi.

Menurut Tompi, relasi profesional dan pertemanan dengan Pandji sudah terjalin cukup lama. Keduanya bahkan pernah terlibat dalam kerja kreatif bersama dan berdiskusi mengenai berbagai isu, termasuk politik. Karena itu, Tompi menegaskan kritiknya murni bersifat substansi, bukan serangan personal.

Setelah menyaksikan pertunjukan Mens Rea yang berdurasi lebih dari dua jam, Tompi mengaku secara umum sepakat dengan pesan-pesan yang disampaikan Pandji, khususnya terkait kondisi politik nasional. Ia menilai kegelisahan yang diangkat Pandji merupakan keresahan yang juga dirasakan banyak orang.

“Hampir semuanya, secara umum saya setuju dengan kontennya. Seratus persen benar. Saya setuju dengan kontennya. Kegelisahannya itu adalah kegelisahan kita semua. Dan dia berhasil menyampaikan pesan itu dengan baik, gitu. Saya cuma menyayangkan satu hal aja,” ungkap Tompi.

Hal yang disayangkan Tompi adalah penggunaan penampilan fisik sebagai bahan kritik terhadap tokoh publik. Ia berpandangan bahwa kritik politik seharusnya diarahkan pada kinerja, kebijakan, atau keputusan yang diambil pejabat, bukan pada kondisi fisik yang bersifat personal dan tidak relevan dengan tugas publik.

Sebagai dokter bedah plastik, Tompi juga menjelaskan bahwa kondisi mata yang terlihat mengantuk pada Wakil Presiden Gibran merupakan kondisi medis yang bersifat anatomis dan dibawa sejak lahir. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah ptosis, yakni keadaan di mana kelopak mata turun sehingga bukaan mata tidak maksimal.

“Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat,” kata Tompi.

Pernyataan Tompi kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah ia mengunggah pandangannya melalui akun Instagram pribadinya @dr_tompi. Dalam unggahan tersebut, Tompi menegaskan bahwa menertawakan kondisi fisik seseorang, dalam konteks apa pun, bukanlah bentuk kritik yang mencerminkan kecerdasan berpikir.

“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” tulisnya.

Unggahan tersebut mendapat respons langsung dari Pandji Pragiwaksono melalui kolom komentar. Alih-alih menolak, Pandji justru menyampaikan apresiasi atas kritik yang disampaikan Tompi, menandakan dialog yang tetap terbuka di tengah perbedaan pandangan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Nasional