HAVANA – Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Pemerintah Kuba. Melalui pernyataan terbuka pada Minggu (11/01/2026), Trump mendesak Havana untuk segera mencapai kesepakatan dengan Washington. Jika tidak, Kuba diminta bersiap menghadapi konsekuensi serius, meski tidak dijelaskan secara rinci bentuk langkah lanjutan yang akan diambil oleh pemerintah AS.
Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui akun resmi platform Truth Social miliknya. Dalam unggahan itu, Trump menegaskan akan menghentikan seluruh aliran sumber daya penting yang selama ini menopang Kuba.
“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG AKAN MASUK KE KUBA—NOL!” tulis Trump. Ia kemudian menambahkan peringatan lanjutan, “Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT,” seperti dikutip dari kantor berita AFP.
Pernyataan Trump ini muncul hanya berselang sekitar satu pekan setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer di Caracas, Venezuela. Dalam operasi tersebut, pasukan AS dilaporkan berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Aksi militer yang dilakukan pada malam hari itu juga mengakibatkan puluhan personel keamanan dari Venezuela dan Kuba tewas, sehingga memicu ketegangan baru di kawasan Amerika Latin.
Sebelumnya, Trump juga sempat membagikan unggahan yang memunculkan spekulasi politik terkait masa depan Kuba. Ia menyinggung kemungkinan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjadi presiden Kuba, negara yang hingga kini masih berada di bawah pemerintahan komunis. Menanggapi unggahan tersebut, Trump menambahkan komentar singkat, “Kedengarannya bagus!”
Tak berhenti di situ, Trump kembali mengunggah pernyataan lanjutan yang menyoroti hubungan erat antara Kuba dan Venezuela selama puluhan tahun terakhir. Ia menilai kerja sama tersebut telah berakhir seiring perubahan situasi politik dan militer di Venezuela.
“Kuba hidup, selama bertahun-tahun, dengan sejumlah besar MINYAK dan UANG dari Venezuela. Sebagai imbalannya, Kuba menyediakan ‘Layanan Keamanan’ untuk dua diktator Venezuela terakhir, TETAPI TIDAK LAGI!” tulis Trump.
Trump juga mengklaim bahwa dampak dari operasi militer AS di Venezuela turut dirasakan langsung oleh Kuba. “Sebagian besar warga Kuba itu TEWAS akibat serangan AS minggu lalu, dan Venezuela tidak lagi membutuhkan perlindungan dari para preman dan pemeras yang menyandera mereka selama bertahun-tahun,” lanjutnya.
Secara historis, Kuba memang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela sejak diberlakukannya embargo perdagangan oleh Amerika Serikat. Ketergantungan tersebut bermula pada era pemerintahan Presiden Venezuela Hugo Chavez dan berlanjut hingga beberapa dekade kemudian. Minyak Venezuela menjadi sumber energi utama sekaligus menopang perekonomian Kuba yang tertekan oleh sanksi internasional.
Ancaman terbaru dari Trump ini diperkirakan akan semakin memperburuk kondisi ekonomi Kuba, yang dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami krisis energi, kelangkaan bahan bakar, serta tekanan sosial di dalam negeri. Para pengamat menilai tekanan politik dan ekonomi dari Washington berpotensi memaksa Havana untuk mengambil langkah strategis dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya.
Di tengah meningkatnya ketegangan regional tersebut, situasi di Amerika Latin kembali menjadi sorotan dunia internasional, terutama terkait dampak domino pascaoperasi militer AS di Venezuela dan implikasinya terhadap negara-negara sekutu Caracas, termasuk Kuba. []
Diyan Feriana Citra.

