WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan kembali mengerahkan kekuatan militer terhadap Iran apabila perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Ancaman itu disampaikan menjelang dimulainya negosiasi tingkat tinggi antara delegasi kedua negara pada Sabtu (11/04/2026), dengan isu utama mencakup program nuklir Iran, pembukaan Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi ekonomi.
Dalam wawancara eksklusif dengan media Amerika, Trump menegaskan armada perang AS telah disiagakan dengan persenjataan terbaru sebagai langkah antisipasi jika jalur diplomasi menemui kebuntuan.
“Kami sedang melakukan pengaturan ulang. Kami mengisi kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat, bahkan lebih baik dari apa yang kami gunakan sebelumnya, saat kami menghancurkan mereka,” ujar Trump.
Menurut Trump, hasil pembicaraan diperkirakan akan segera terlihat dalam waktu 24 jam setelah perundingan dimulai. Ia menegaskan opsi militer tetap berada di meja jika kesepakatan tidak tercapai.
“Kami akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 24 jam. Kami akan segera tahu. Jika kami tidak mendapatkan kesepakatan, kami akan menggunakan senjata-senjata tersebut, dan kami akan menggunakannya dengan sangat efektif,” tegas Trump, sebagaimana dilansir Kompas, Jumat, (11/04/2026).
Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden (Wapres) JD Vance yang telah bertolak menuju Islamabad menggunakan Air Force Two, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf diperkirakan memimpin tim negosiasi.
Isu paling krusial dalam perundingan ini adalah tuntutan AS agar Iran menyerahkan sekitar 450 kilogram uranium yang telah diperkaya dan membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran internasional. Selain itu, pembahasan juga mencakup penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan, status program rudal balistik, serta permintaan Teheran agar Washington mencabut sanksi ekonomi.
Di sisi lain, mantan jenderal Angkatan Darat AS Jack Keane menyatakan militer AS telah memiliki skenario detail untuk mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut.
“Militer AS dapat mengamankan ruang tertentu yang melintasi selat itu—memasang pelindung udara di sekelilingnya dan memastikan apa pun yang mencoba menembusnya akan dikalahkan,” jelas Keane.
Perundingan di Islamabad dipandang sebagai momentum penentu bagi masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah, di tengah rapuhnya gencatan senjata dua pekan yang baru tercapai beberapa hari sebelumnya. Kegagalan negosiasi berpotensi memicu eskalasi konflik baru dengan dampak langsung terhadap keamanan global dan pasokan energi dunia. []
Redaksi05

