WASHINGTON — Dinamika politik internasional kembali mengemuka menjelang pemilu sela Jepang yang akan digelar Minggu (08/02/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Sikap ini menjadi sorotan global karena mencerminkan keterlibatan politik lintas negara yang jarang terjadi dalam praktik diplomasi internasional.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Kamis (05/02/2026) waktu setempat, Trump menyampaikan pujian terbuka terhadap kepemimpinan Takaichi. Ia menggambarkan perdana menteri Jepang itu sebagai figur kuat dengan visi kebangsaan yang tegas.
“Takaichi telah terbukti sebagai pemimpin yang kuat, berkuasa, dan bijaksana… sosok yang benar-benar mencintai negaranya,” tulis Trump.
Ia menambahkan dengan penuh keyakinan, “Dia tidak akan mengecewakan rakyat Jepang!”
Pernyataan tersebut tidak hanya menjadi bentuk dukungan personal, tetapi juga mencerminkan arah politik luar negeri Trump yang cenderung menampilkan diplomasi terbuka dan langsung. Dukungan kepada pemimpin asing dalam momentum pemilu bukanlah hal yang lazim, namun pola ini sejalan dengan sikap Trump sebelumnya yang juga memberikan dukungan kepada tokoh-tokoh politik seperti Javier Milei di Argentina dan Viktor Orban di Hungaria.
Relasi erat antara Washington dan Tokyo dalam beberapa bulan terakhir turut membentuk konteks dukungan ini. Pemerintahan Takaichi dinilai berhasil meredakan ketegangan ekonomi dengan AS yang sebelumnya dipicu oleh ancaman tarif impor sebesar 25 persen. Ketegangan itu mereda setelah Jepang menyepakati investasi besar senilai US$550 miliar atau sekitar Rp8.600 triliun di Amerika Serikat pada Juli lalu. Sebagai konsekuensinya, Washington menurunkan tarif impor menjadi 15 persen, membuka kembali ruang kerja sama ekonomi strategis antara kedua negara.
Takaichi, yang resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada Oktober setelah memenangkan kursi kepemimpinan partai, kemudian mengambil langkah politik signifikan dengan memutuskan menggelar pemilu sela. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperoleh legitimasi langsung dari rakyat Jepang sekaligus memperkuat mandat politiknya di dalam negeri.
Dalam konteks hubungan bilateral, hubungan personal Trump dan Takaichi juga tampak diperkuat melalui simbol-simbol diplomatik. Hanya sepekan setelah Takaichi menjabat, Trump melakukan kunjungan resmi ke Jepang dan disambut dengan upacara militer penuh di Istana Akasaka. Pada kesempatan itu, kedua negara menandatangani kesepakatan strategis terkait mineral jarang (rare earths) dan secara simbolik memproklamasikan dimulainya “era emas” baru dalam hubungan AS–Jepang.
“Dalam kunjungan saya ke Jepang, saya dan seluruh perwakilan saya sangat terkesan dengannya,” tulis Trump, seraya mengonfirmasi bahwa ia akan menjamu Takaichi di Gedung Putih pada 19 Maret mendatang.
Namun, dukungan Trump terhadap Takaichi tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik kawasan Asia Timur, khususnya terkait hubungan dengan Tiongkok. Sehari sebelum pernyataan dukungan tersebut, Trump melakukan percakapan telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Trump menyebut hubungan keduanya berjalan baik dan menekankan pentingnya menjaga stabilitas hubungan bilateral.
Di sisi lain, posisi politik Takaichi justru kerap memicu ketegangan dengan Beijing. Xi Jinping secara tegas menegaskan bahwa Taiwan merupakan “masalah paling penting” bagi kedaulatan Tiongkok dan meminta AS lebih berhati-hati dalam memasok senjata ke wilayah tersebut. Pernyataan Takaichi sebelumnya, yang menyebut kemungkinan keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang jika China menyerang Taiwan, telah memicu kemarahan Beijing dan memperburuk hubungan Tokyo–Beijing sejak November lalu.
Situasi ini menempatkan pemilu sela Jepang bukan hanya sebagai agenda politik domestik, tetapi juga sebagai bagian dari peta besar geopolitik Asia-Pasifik. Dukungan Trump terhadap Takaichi memperlihatkan bahwa pertarungan politik Jepang kini mendapat perhatian global, seiring meningkatnya tensi strategis antara AS, Jepang, dan Tiongkok di kawasan tersebut. []
Diyan Febriana Citra.

