WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perhatian global setelah menyampaikan rencana ambisius untuk menaikkan anggaran pertahanan Amerika Serikat secara signifikan. Pada Rabu (07/01/2026), Trump menyatakan keinginannya untuk meningkatkan belanja militer hingga 50 persen pada tahun anggaran berikutnya, sebuah langkah yang akan membawa total anggaran pertahanan AS mencapai sekitar 1,5 triliun dollar AS atau setara Rp25.000 triliun.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social. Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai respons terhadap situasi global yang dinilainya semakin tidak stabil dan penuh ancaman.
“Saya telah memutuskan, demi kebaikan negara kita, terutama di masa-masa yang sangat sulit dan berbahaya ini, anggaran militer kita untuk tahun 2027 seharusnya bukan 1 triliun dollar AS, melainkan 1,5 triliun dollar AS,” tulis Trump, dikutip dari AFP, Kamis (08/01/2026).
Trump meyakini lonjakan anggaran tersebut akan memperkuat posisi militer AS di panggung internasional. “Ini akan memungkinkan kita untuk membangun ‘militer impian’ yang telah lama menjadi hak kita. Yang lebih penting, akan menjaga kita tetap aman dan terjaga, terlepas dari musuh mana pun,” sambungnya.
Sejak kembali menduduki Gedung Putih, Trump memang dikenal mengedepankan pendekatan keras dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan. Di bawah pemerintahannya, penggunaan kekuatan militer meningkat, termasuk pelaksanaan operasi khusus yang diklaim bertujuan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Selain itu, Trump juga melontarkan berbagai ancaman terbuka kepada sejumlah negara, seperti Kolombia, Kuba, hingga Iran, yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan strategis Washington.
Trump mengklaim, rencana peningkatan anggaran pertahanan tersebut dimungkinkan oleh tambahan pendapatan negara yang berasal dari kebijakan tarif besar-besaran terhadap impor. Menurutnya, kebijakan ekonomi tersebut memberi ruang fiskal bagi pemerintah untuk memperbesar belanja militer tanpa membebani stabilitas keuangan negara.
Amerika Serikat saat ini tercatat sebagai negara dengan pengeluaran militer terbesar di dunia. Jika anggaran pertahanan benar-benar ditingkatkan hingga 1,5 triliun dollar AS, jarak belanja militer AS dengan negara pesaing utamanya, seperti China dan Rusia, akan semakin melebar. Namun, para pengamat menilai kebijakan ini berpotensi memicu perlombaan senjata baru di tingkat global.
Di sisi lain, Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap perusahaan-perusahaan kontraktor pertahanan. Ia menilai keuntungan besar yang diraih industri pertahanan tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi dan investasi jangka panjang.
“Kontraktor pertahanan membayarkan dividen besar-besaran kepada pemegang saham mereka dan melakukan pembelian kembali saham besar-besaran, dengan mengorbankan dan merugikan investasi dalam pabrik dan peralatan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti besarnya paket kompensasi para eksekutif perusahaan pertahanan. “Sementara paket gaji untuk para eksekutif pertahanan sangat tinggi dan tidak dapat dibenarkan,” lanjut Trump. Presiden AS itu menyatakan akan membatasi gaji eksekutif hingga 5 juta dollar AS serta melarang pembelian kembali saham dan pembagian dividen hingga perusahaan-perusahaan tersebut memperbaiki kinerjanya.
Pengumuman Trump tersebut langsung berdampak pada pasar keuangan. Saham sejumlah perusahaan pertahanan besar AS, seperti Lockheed Martin dan General Dynamics, dilaporkan turun lebih dari empat persen. Saham Northrop Grumman bahkan merosot lebih dari lima persen. Trump juga secara khusus menyoroti Raytheon, yang dinilainya lamban dalam meningkatkan kapasitas produksi dan kurang responsif terhadap kebutuhan pemerintah AS.
Trump memperingatkan bahwa Raytheon harus meningkatkan investasi pada pabrik dan peralatan produksi. Jika tidak, perusahaan tersebut terancam kehilangan kontrak dari pemerintah Amerika Serikat. Kebijakan dan pernyataan Trump ini diperkirakan akan terus memicu perdebatan, baik di dalam negeri AS maupun di tingkat internasional, terkait arah kebijakan pertahanan dan stabilitas keamanan global. []
Diyan Febriana Citra.

