WASHINGTON — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait laporan mengenai pembunuhan demonstran di Iran yang dikabarkan telah berhenti. Pernyataan ini muncul di tengah dinamika protes besar-besaran yang mengguncang negeri di Timur Tengah tersebut dan respons keras yang disampaikan Washington terhadap rezim Teheran.
Trump menyampaikan pernyataannya di Gedung Putih, Rabu (14/01/2026), setelah menerima informasi dari pihak lain yang disebutnya sangat penting. Menurut Trump, sumber tersebut menyatakan bahwa kekerasan terhadap demonstran dan rencana eksekusi besar-besaran telah dihentikan.
“Mereka mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan terjadi seharusnya ada banyak eksekusi hari ini dan eksekusi tidak akan terjadi dan kita akan segera mengetahuinya,” ujar Trump dalam keterangan yang dikutip dari AFP, Kamis (15/01/2026).
Walaupun demikian, Trump juga menegaskan bahwa klaim tersebut belum dapat diverifikasi sepenuhnya oleh pemerintah AS. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat masih akan mengevaluasi informasi tersebut. “Kami mendapat informasi dari sumber yang dapat dipercaya, dan saya harap itu benar,” lanjutnya.
Pernyataan ini muncul tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Iran akibat dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam menanggapi unjuk rasa yang terjadi sejak akhir Desember 2025. Sebagaimana dilaporkan oleh beberapa lembaga pemantau internasional, gelombang protes tersebut telah mengakibatkan ribuan orang tewas dan puluhan ribu ditangkap. Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan bahwa situasi kini mulai tenang setelah apa yang disebutnya sebagai tiga hari “operasi teroris” dan bahwa mereka sepenuhnya mengendalikan kondisi dalam negeri.
Akan tetapi, laporan dari organisasi hak asasi manusia internasional menyebutkan bahwa jumlah korban dalam protes ini terus meningkat secara signifikan. Data yang dirilis oleh beberapa lembaga luar negeri bahkan memperlihatkan angka kematian yang jauh lebih tinggi daripada yang diakui oleh otoritas Iran, dengan ribuan demonstran tewas dan lebih dari 10.000 orang ditahan. Kondisi ini memicu kecaman dari banyak negara dan organisasi global karena dianggap sebagai “penindasan paling keras dalam beberapa tahun terakhir” terhadap gerakan yang menentang sistem teokrasi di Iran.
Respons AS terhadap situasi ini juga mengakibatkan perubahan strategi militer di kawasan. Amerika Serikat dilaporkan telah mengurangi sejumlah personel di pangkalan militer yang menjadi target kemungkinan serangan oleh pihak Iran tahun lalu setelah ketegangan meningkat drastis. Selain itu, ketidakpastian politik di wilayah tersebut memicu perdebatan internasional mengenai kemungkinan tindakan AS jika Iran kembali menggunakan kekuatan secara besar-besaran terhadap para demonstran atau melanjutkan rencana eksekusi yang sebelumnya disebutkan oleh berbagai pihak.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka dapat membalas setiap serangan dari luar negeri, termasuk kemungkinan tindakan militer oleh Washington. Dalam suasana seperti ini, sejumlah negara di seluruh dunia terus mengamati perkembangan situasi dengan cermat, terutama terkait dampak kemanusiaan dan keamanan regional.
Langkah Trump menunda pertemuan dengan pejabat Iran hingga “pembunuhan tanpa akal sehat” terhadap para demonstran berhenti juga menunjukkan eskalasi diplomatik yang signifikan dalam hubungan kedua negara. Situasi ini memperlihatkan betapa kompleksnya konflik yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan geopolitik di tengah dinamika protes yang tengah berlangsung di Iran. []
Diyan Febriana Citra.

