Trump Klaim Operasi Militer di Iran Berlangsung Selama Empat Pekan

Trump Klaim Operasi Militer di Iran Berlangsung Selama Empat Pekan

Bagikan:

WASHINGTON — Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait durasi operasi militer di Iran kembali memantik perhatian dunia internasional. Trump menyebut bahwa operasi militer yang dijalankan Amerika Serikat untuk membantu Israel diperkirakan berlangsung sekitar empat pekan. Pernyataan ini menegaskan keyakinan Gedung Putih bahwa tekanan militer intensif dalam waktu terbatas dinilai cukup untuk melumpuhkan kemampuan strategis Iran.

Hal tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Daily Mail pada Minggu (01/03/2026) waktu setempat. Operasi militer Amerika Serikat sendiri telah dimulai sejak Sabtu (28/02/2026), menyusul eskalasi konflik kawasan Timur Tengah yang semakin tajam. Dalam operasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan udara.

“Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu,” ucap Trump seperti dikutip dari Reuters.

“Prosesnya selalu sekitar empat minggu, jadi sekuat apa pun negara itu, ini negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau kurang,” sambung dia.

Pernyataan Trump tersebut mencerminkan pendekatan khas Washington yang mengandalkan superioritas militer dan teknologi untuk menekan lawan. Namun, sikap ini langsung mendapat respons keras dari Teheran. Pemerintah Iran menilai perhitungan Amerika Serikat terlalu menyederhanakan realitas konflik, terutama jika menyangkut daya tahan politik dan militer Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negaranya telah belajar dari sejarah konflik modern, termasuk pengalaman Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak. Menurut Iran, kekuatan militer besar tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan strategis.

“Kami mengambil pelajaran yang sesuai. Pengeboman Ibu Kota kami tak berdampak pada kemampuan kami berperang,” ucap Kemlu Iran.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran berupaya membangun narasi perlawanan jangka panjang, dengan menekankan bahwa kehilangan figur sentral atau serangan ke pusat pemerintahan tidak otomatis mematahkan struktur kekuatan negara.

Sementara itu, di pihak Israel, ketegangan terus meningkat. Israel selama ini memandang Iran sebagai ancaman eksistensial terhadap keberlangsungan negaranya. Persepsi tersebut berakar dari pernyataan berulang para pemimpin Iran yang menyerukan penghapusan Israel dari peta dunia. Bagi Tel Aviv, ancaman itu tidak dianggap sekadar retorika politik.

Hubungan strategis antara Amerika Serikat dan Israel kembali terlihat kuat dalam eskalasi terbaru ini. Trump sebelumnya juga terlihat menjalin komunikasi intens dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, termasuk dalam berbagai pertemuan resmi dan kunjungan kenegaraan. Israel menilai dukungan Washington menjadi elemen kunci dalam menghadapi Iran, baik secara militer maupun diplomatik.

Di sisi lain, eskalasi konflik ini turut menimbulkan kekhawatiran komunitas internasional akan dampak kemanusiaan dan stabilitas kawasan. Serangan rudal dan balasan militer telah memicu situasi darurat di sejumlah wilayah Israel, termasuk daerah sekitar Bet Shemesh yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Yerusalem.

Para pengamat menilai, meski Trump optimistis operasi militer bisa diselesaikan dalam hitungan pekan, dinamika politik regional dan reaksi Iran berpotensi memperpanjang konflik. Pernyataan saling menantang dari kedua pihak justru memperlihatkan bahwa perang narasi dan persepsi kekuatan sama pentingnya dengan pertempuran di lapangan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional