TOKYO – Pemerintah Amerika Serikat menegaskan masih membuka ruang diplomasi dengan Korea Utara di tengah stagnasi hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir. Sikap tersebut disampaikan menyusul pernyataan terbaru pemimpin Korea Utara yang kembali menyinggung kemungkinan perbaikan hubungan dengan Washington, asalkan kebijakan yang dinilai bermusuhan dihentikan.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tetap berkomitmen pada pendekatan dialog dan tidak menutup peluang komunikasi langsung dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Bahkan, menurut pejabat tersebut, pintu perundingan masih terbuka tanpa prasyarat tertentu.
“Tanpa prasyarat apa pun,” kata pejabat Gedung Putih itu pada Kamis (26/02/2026), seperti dikutip Kyodo News, menanggapi sinyal yang disampaikan Kim terkait hubungan bilateral kedua negara.
Pejabat itu menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintahan Trump terhadap Korea Utara tidak mengalami perubahan. Ia juga mengingatkan bahwa Trump telah mencatat sejarah dengan menggelar tiga pertemuan puncak bersama Kim, yang dinilai berkontribusi pada stabilitas situasi di Semenanjung Korea.
Pernyataan tersebut muncul setelah media pemerintah Korea Utara melaporkan hasil Kongres Partai Buruh Korea yang berlangsung selama sepekan dan berakhir pada Rabu. Kongres ini menjadi yang pertama digelar sejak 2021 dan menjadi momentum penting bagi Pyongyang untuk menyampaikan sikap politik luar negerinya.
Dalam laporan tersebut, Kim menyebut bahwa Amerika Serikat belum menunjukkan perubahan sikap dari apa yang disebutnya sebagai kebijakan permusuhan. Meski demikian, ia juga menyampaikan nada yang lebih terbuka. Kim dikutip mengatakan bahwa “tidak ada alasan bagi kedua negara untuk tidak menjalin hubungan baik” apabila Washington mengubah pendekatannya. Ia menambahkan bahwa masa depan hubungan bilateral sepenuhnya berada di tangan pihak AS.
Selama bertahun-tahun, Korea Utara berupaya memperoleh pengakuan internasional sebagai negara pemilik senjata nuklir dan secara konsisten mendesak pencabutan sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat beserta sekutunya.
Upaya diplomasi paling menonjol terjadi pada 2018, ketika Trump menjadi presiden AS pertama yang sedang menjabat yang bertemu langsung dengan pemimpin Korea Utara. Pertemuan bersejarah itu berlangsung di Singapura, di mana kedua pemimpin berjabat tangan dan sepakat untuk bekerja menuju denuklirisasi penuh Semenanjung Korea.
Trump kemudian menggelar dua pertemuan lanjutan dengan Kim pada tahun berikutnya. Namun, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan konkret. Sementara itu, Korea Utara tetap melanjutkan pengembangan kemampuan rudal dan nuklirnya.
Trump sebelumnya menyatakan memiliki hubungan personal yang baik dengan Kim dan berharap jalur diplomasi dapat dihidupkan kembali. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, isu Korea Utara nyaris tidak muncul dalam pernyataan publik Trump. Bahkan, dalam pidato Kenegaraan pertamanya sejak kembali ke Gedung Putih lebih dari setahun lalu, Trump tidak menyinggung Pyongyang sama sekali.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pengamat mengenai arah diplomasi AS–Korea Utara ke depan, di tengah sinyal terbuka yang kembali disampaikan kedua belah pihak. []
Diyan Febriana Citra.

