WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran di tengah rencana blokade maritim yang mulai diberlakukan di kawasan Selat Hormuz, setelah perundingan kedua negara di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/04/2026). Langkah ini mempertegas eskalasi tensi geopolitik di salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip sejumlah media internasional, opsi operasi militer terbatas tetap masuk dalam pembahasan Gedung Putih beberapa jam setelah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad menemui jalan buntu. Selain itu, opsi serangan skala penuh juga disebut sempat dipertimbangkan, meski dinilai berisiko memperburuk stabilitas kawasan dan memicu konflik berkepanjangan.
Pembicaraan tingkat tinggi yang dimulai sejak Sabtu (11/04/2026) itu sebelumnya diharapkan menjadi momentum menjaga gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Trump. Namun, Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance pada Minggu pagi menyatakan kedua pihak gagal mencapai titik temu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut masih terdapat perbedaan pandangan pada dua hingga tiga poin utama, meskipun sejumlah isu lain telah mencapai kesepahaman bersama.
Sebagai respons atas kegagalan negosiasi, Trump kemudian mengumumkan dimulainya blokade terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz. Ia juga memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk melacak serta mencegat kapal yang disebut membayar Iran untuk melintas di jalur tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command atau CENTCOM) menyatakan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran akan mulai berlaku pada Senin (13/04/2026) pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB. Meski demikian, CENTCOM menegaskan kapal yang hanya melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran tetap dapat melanjutkan pelayaran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan global, terutama untuk distribusi minyak dan gas dunia. Setiap peningkatan eskalasi di kawasan ini berpotensi memengaruhi harga energi internasional dan stabilitas ekonomi global, sebagaimana dilansir Antara, Senin, (13/04/2026).
Perkembangan situasi masih terus dipantau, terutama terkait kemungkinan dibukanya kembali jalur diplomasi atau justru meningkatnya tekanan militer antara kedua negara. []
Redaksi05

