Trump Siap Ambil Uranium Iran Jika Kesepakatan Tercapai

Trump Siap Ambil Uranium Iran Jika Kesepakatan Tercapai

Bagikan:

KANADA – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan rencana pengambilalihan uranium yang telah diperkaya milik Iran sebagai bagian dari potensi kesepakatan bilateral, di tengah dinamika negosiasi yang masih berlangsung dan belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh kedua pihak.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (23/03/2026) di Hamilton, Kanada, saat merespons pertanyaan wartawan terkait mekanisme penguasaan uranium Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Teheran. “Sangat mudah. Jika kita memiliki kesepakatan dengan mereka, kita akan mengambilnya sendiri,” ujarnya sebagaimana dilansir Antara, Selasa, (24/03/2026).

Trump juga mengungkapkan adanya komunikasi lanjutan antara kedua negara, meskipun klaim tersebut sebelumnya dibantah oleh pihak Iran. Ia menyebut pembicaraan terbaru berlangsung pada Minggu malam, serta membuka peluang komunikasi lanjutan dalam waktu dekat.

“Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Kami juga ingin membuat kesepakatan,” katanya.

Lebih lanjut, Trump menyampaikan kemungkinan pertemuan langsung antara pejabat kedua negara, meski mengakui adanya kendala mobilitas bagi pihak Iran. “Kita akan bertemu hari ini mungkin melalui telepon,” katanya.

Dalam konteks yang lebih luas, Trump juga menyinggung langkah militer yang masih menjadi opsi apabila kesepakatan tidak tercapai. Ia sebelumnya mengumumkan jeda lima hari dalam serangan terhadap fasilitas energi Iran sebagai bagian dari strategi negosiasi.

“Kita akan lihat bagaimana hasilnya, dan jika berjalan dengan baik, kita akan menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, kita akan terus membombardir sesuka hari kita,” tegasnya.

Isu uranium yang telah diperkaya atau enriched uranium menjadi salah satu poin krusial dalam perundingan antara AS dan Iran, mengingat potensi penggunaannya dalam pengembangan senjata nuklir. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran terkait kesepakatan yang dimaksud, sementara ketegangan geopolitik di kawasan masih terus menjadi perhatian internasional. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang