WASHINGTON — Kontroversi kembali menyelimuti Gedung Putih setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tanggapan atas unggahan video di akun Truth Social miliknya yang memicu kecaman luas. Video tersebut menampilkan potongan gambar mantan Presiden AS, Barack Obama, dan Ibu Negara Michelle Obama yang diedit menyerupai monyet. Konten itu dinilai banyak pihak sebagai bermuatan rasis.
Alih-alih meminta maaf, Trump menyatakan bahwa potongan video tersebut bukan hal baru. Ia menyebut klip itu telah lama beredar di internet.
Berbicara kepada wartawan pada Kamis (12/02/2026), Trump menegaskan bahwa unggahan tersebut merupakan bagian dari video berdurasi panjang yang membahas dugaan kecurangan pemilu.
“Itu adalah video tentang, seperti yang Anda tahu, kecurangan pemilu,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa dalam video tersebut terdapat bagian lain yang mengandung unsur parodi, termasuk referensi terhadap film animasi produksi Walt Disney Pictures, The Lion King.
“Video cukup panjang yang memiliki sedikit bagian berkaitan dengan ‘The Lion King.’”
Trump menilai fokus utama video itu seharusnya tertuju pada narasi dugaan kecurangan pemilu yang menurutnya menjadi bagian paling kuat.
“Bagian yang Anda bicarakan itu sudah beredar di mana-mana, berkali-kali, saya percaya, selama bertahun-tahun,” ujar Trump merujuk pada klip yang menampilkan wajah Obama ditumpangkan ke tubuh kera kartun dengan latar lagu “The Lion Sleeps Tonight.”
Meski mengaku tidak menyadari keseluruhan isi video saat pertama kali dibagikan, Trump mengatakan dirinya mengecam bagian yang dianggap rasis. Namun, ia tetap menolak untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Kontroversi ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk dari Partai Demokrat maupun Partai Republik. Senator Republik dari South Carolina, Tim Scott, menyebut unggahan tersebut sebagai “hal paling rasis” yang pernah ia lihat dari Gedung Putih. Sementara itu, Senator Republik dari Mississippi, Roger Wicker, menilai unggahan itu “benar-benar tidak dapat diterima” dan meminta Trump menyampaikan permintaan maaf.
Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sempat membela unggahan tersebut dengan menyebut reaksi publik sebagai “palsu”. Ia menggambarkan konten tersebut sebagai “video meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai Raja Hutan dan Demokrat sebagai karakter dari The Lion King.”
Video yang dibagikan itu diketahui merupakan potongan dari rekaman lebih panjang yang menampilkan wajah sejumlah politisi Demokrat pada berbagai karakter hewan. Namun, dalam unggahan yang beredar di akun Truth Social Trump, hanya keluarga Obama yang tampak jelas.
Sekitar 12 jam setelah diunggah, video tersebut akhirnya dihapus oleh Gedung Putih. Pihak administrasi menyatakan bahwa seorang staf telah “secara keliru” mengunggahnya. Sejumlah pihak mendesak agar staf yang bertanggung jawab diberhentikan, tetapi Trump memastikan tidak akan mengambil langkah tersebut.
Dalam beberapa hari setelah insiden, pejabat pemerintahan berupaya meredam polemik. Wakil Presiden, JD Vance, menyatakan bahwa peristiwa itu “bukan kontroversi yang nyata” dan menekankan masih banyak persoalan lain yang lebih mendesak untuk menjadi perhatian publik.
Kasus ini kembali menyoroti ketegangan politik yang mengemuka di Amerika Serikat menjelang dinamika politik berikutnya, sekaligus memperlihatkan bagaimana media sosial tetap menjadi arena sensitif dalam perdebatan isu ras dan etika komunikasi publik. []
Diyan Febriana Citra.

