CARACAS — Gelombang unjuk rasa besar kembali terjadi di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Selasa (03/02/2026), ketika ribuan warga turun ke jalan menuntut pembebasan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Aksi massa ini berlangsung hampir sebulan setelah keduanya ditahan oleh pasukan Amerika Serikat dalam sebuah operasi yang mengguncang tatanan politik negara tersebut.
Aksi protes ini bermula di Plaza Venezuela dan berlanjut menuju Jalan Urdaneta di pusat kota, memperlihatkan semangat solidaritas dan penolakan kuat terhadap penahanan Maduro dan Flores oleh militer AS. Gubernur Negara Bagian Miranda, Elio Serrano, mengatakan bahwa mobilisasi massa itu mencerminkan tekad rakyat Venezuela untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka tetap teguh dan bersatu dalam perjuangan ini.
Sementara itu, Presiden Federasi Pengusaha Wanita Venezuela, Jenny Escobar, menilai unjuk rasa tersebut memperkuat loyalitas rakyat kepada pasangan pemimpin yang kini ditahan. Menurutnya, demonstrasi ini bukan sekadar protes, tetapi juga wujud solidaritas rakyat Venezuela terhadap figur kepala negara mereka.
Para pengunjuk rasa membawa berbagai spanduk dan poster yang menuntut pembebasan Maduro dan Flores dari tahanan. Banner bertuliskan tuntutan mereka menggema di sepanjang rute aksi, seiring pendemo mengenakan simbol-simbol nasional dan warna merah khas gerakan politik pendukung Maduro. Demonstrasi seperti ini sudah berlangsung sejak 3 Januari silam, menunjukkan kegigihan pendukung pemerintah meskipun terjadi perubahan dramatis dalam politik nasional Venezuela.
Aksi massa ini terjadi di tengah dinamika politik yang sangat kompleks. Setelah operasi militer yang menahan Maduro dan Flores, jabatan kepresidenan diambil alih oleh Delcy Rodríguez sebagai Penjabat Presiden Venezuela. Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden, kini berada di garis depan pemerintahan yang mencoba menstabilkan situasi nasional di tengah tekanan domestik dan internasional yang luar biasa besar.
Unjuk rasa ini juga memiliki dimensi internasional, karena latar belakang operasi militer yang dipicu oleh keterlibatan Amerika Serikat. Pendukung Maduro menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional Venezuela. Mereka mengecam keterlibatan militer asing dalam urusan internal negara mereka dan meminta dukungan dunia internasional untuk menghormati prinsip non-intervensi.
Selain itu, gelombang protes ini juga menjadi panggung bagi berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pekerja sektor publik hingga pengusaha lokal, semua turun bersama dalam aksi terbesar yang tercatat sejak pergantian kepemimpinan secara kontroversial ini. Bagi banyak demonstran, tuntutan pembebasan Maduro dan Flores bukan sekadar slogan, melainkan simbol perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai eksekusi tidak adil terhadap pemimpin mereka.
Demonstrasi di Caracas juga menarik perhatian komunitas internasional. Berbagai media internasional melaporkan aksi-aksi yang terus berlanjut di Venezuela, menunjukkan bahwa ketegangan politik dan dukungan rakyat terhadap Maduro merupakan isu yang mendapat sorotan global. Dalam beberapa minggu terakhir, unjuk rasa serupa juga dilaporkan terjadi di kota-kota lain di Venezuela, mencerminkan gejolak politik yang belum mereda.
Meski situasi ini penuh tekanan dan ketegangan, para pengunjuk rasa tetap damai dan tidak tercatat adanya bentrokan besar antara massa dan aparat keamanan. Aksi tersebut mencerminkan dinamika yang rumit di Venezuela, di mana rasa nasionalisme, loyalitas politik, dan tuntutan atas keadilan saling berinteraksi dalam situasi yang penuh ketidakpastian. []
Diyan Febriana Citra.

