Wiranto hingga Pramono Anung Melayat ke Kediaman Try Sutrisno

Wiranto hingga Pramono Anung Melayat ke Kediaman Try Sutrisno

Bagikan:

JAKARTA — Suasana duka menyelimuti kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (02/03/2026), saat sejumlah tokoh nasional hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno. Kehadiran para pejabat negara ini menjadi penanda besarnya penghargaan atas jasa dan pengabdian Try Sutrisno bagi bangsa dan negara.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan, Wiranto, tercatat sebagai salah satu tokoh yang datang lebih awal ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng. Berdasarkan pantauan di lokasi, Wiranto tiba sekitar pukul 09.20 WIB, beberapa menit sebelum jenazah almarhum dibawa dari rumah sakit ke kediaman duka. Jenazah Try Sutrisno sendiri tiba di rumah duka sekitar pukul 09.23 WIB.

Tak lama berselang, arus pelayat dari kalangan pejabat terus berdatangan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terlihat hadir sekitar pukul 09.44 WIB. Selain itu, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi juga tampak berada di rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga almarhum.

Informasi yang diterima menyebutkan bahwa Try Sutrisno mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto pada pukul 06.58 WIB di hari yang sama. Sesuai rencana, prosesi perawatan jenazah dilakukan terlebih dahulu di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke Menteng untuk disemayamkan. Selanjutnya, jenazah akan disholatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Kepergian Try Sutrisno meninggalkan catatan panjang dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Ia menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935, Try dikenal sebagai salah satu wakil presiden yang berasal dari latar belakang militer.

Karier militernya dimulai saat ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Hubungannya dengan Presiden Soeharto terjalin sejak masa Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962. Seiring perjalanan waktu, Try dipercaya menjadi ajudan Presiden pada 1974, sebuah posisi strategis yang memperkuat perannya di lingkaran kekuasaan negara.

Puncak karier militernya terjadi pada Agustus 1985, ketika ia menyandang pangkat Letnan Jenderal TNI dan menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Sepuluh bulan kemudian, pada Juni 1986, ia diangkat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad). Pengalaman panjang di dunia militer tersebut kemudian membawanya ke panggung politik nasional saat MPR periode 1992–1997 memilihnya sebagai Wakil Presiden RI melalui Sidang Umum MPR 1993.

Masa tugas Try Sutrisno sebagai wakil presiden berakhir pada 1998 dan dilanjutkan oleh Wakil Presiden berikutnya, B.J. Habibie. Meski demikian, kiprahnya tetap dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa. Kehadiran para tokoh negara di rumah duka Menteng menjadi simbol penghormatan terakhir atas dedikasi dan pengabdian almarhum bagi Republik Indonesia. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Hotnews Nasional