SEOUL – Kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke China pada Minggu (04/01/2026) menandai babak baru dinamika diplomasi Asia Timur. Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menjamu Lee di Beijing, dalam pertemuan yang berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional, khususnya antara China dan Jepang terkait isu Taiwan. Pertemuan ini menjadi simbol upaya kedua negara menata ulang relasi strategis yang sempat mengalami pasang surut dalam beberapa tahun terakhir.
Pertemuan Xi dan Lee merupakan yang kedua dalam kurun waktu dua bulan. Intensitas tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Beijing ingin memperdalam hubungan dengan Seoul, terutama di sektor ekonomi, perdagangan, dan pariwisata. Di sisi lain, Korea Selatan di bawah kepemimpinan Lee juga terlihat berupaya mengembalikan keseimbangan kebijakan luar negeri setelah periode sebelumnya dinilai terlalu condong ke Amerika Serikat dan Jepang.
Langkah China menjadwalkan pertemuan ini sebelum Korea Selatan kembali menggelar dialog tingkat tinggi dengan Jepang dinilai sarat makna strategis. Beijing disebut ingin memastikan bahwa kepentingannya tetap diperhitungkan dalam perhitungan kebijakan luar negeri Seoul.
“China ingin menegaskan posisi penting Korea Selatan lebih dari sebelumnya,” ujar Kang Jun-young, pakar ekonomi politik dari Hankuk University of Foreign Studies. Menurutnya, waktu pertemuan tersebut menunjukkan keinginan China untuk memperkuat komunikasi dengan Seoul sebelum dinamika regional kembali menghangat.
Hubungan China dan Korea Selatan sempat mengalami ketegangan pada era Presiden Yoon Suk Yeol. Saat itu, Seoul mengambil posisi yang lebih dekat dengan Washington dan Tokyo, termasuk dalam isu keamanan regional dan Taiwan. Sikap tersebut memicu kekhawatiran Beijing, terutama karena Korea Selatan memiliki peran penting dalam rantai pasok global dan industri teknologi.
Pemerintahan Lee Jae Myung kini berupaya “memulihkan” hubungan tersebut, dengan menekankan bahwa China tetap menjadi mitra dagang terbesar Korea Selatan. Lee juga berulang kali menegaskan bahwa negaranya tidak akan berpihak dalam perselisihan diplomatik antara China dan Jepang, serta berupaya menjaga stabilitas kawasan.
Meski demikian, tantangan geopolitik tetap membayangi hubungan Beijing–Seoul. China merupakan pendukung utama Korea Utara, sementara Korea Selatan adalah sekutu strategis Amerika Serikat, dengan sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di Semenanjung Korea. Washington bahkan memberi sinyal akan meningkatkan fleksibilitas militernya di kawasan, termasuk untuk menghadapi potensi konflik di Taiwan.
Dalam pertemuan ini, Xi dan Lee diperkirakan akan membahas modernisasi aliansi Korea Selatan–AS, yang oleh Beijing dipandang sebagai bagian dari strategi membendung pengaruh China. Seoul juga disebut akan mendorong peran aktif Beijing untuk membuka kembali dialog dengan Korea Utara, meski Pyongyang sebelumnya mengecam Lee sebagai “munafik” dan “maniak konfrontatif”.
Isu ekonomi menjadi agenda utama dalam kunjungan ini. Hampir 50 persen kebutuhan mineral tanah jarang Korea Selatan yang krusial bagi industri semikonduktor masih bergantung pada China. Selain itu, sekitar sepertiga ekspor chip Korea Selatan juga mengalir ke pasar China. Kedua negara bulan lalu telah menyepakati penguatan kerja sama pasokan mineral kritis melalui kesepakatan tingkat menteri.
Kerja sama teknologi juga menjadi sorotan. Huawei disebut berencana memasarkan chip kecerdasan buatan Ascend 950 di Korea Selatan sebagai alternatif produk Nvidia. Di sektor budaya, muncul harapan mencairnya pembatasan informal terhadap K-pop yang diberlakukan China sejak polemik pemasangan sistem antimisil THAAD pada 2017. Kehadiran CEO SM Entertainment dalam rombongan bisnis Lee menguatkan sinyal tersebut.
Kunjungan ini tidak hanya mencerminkan kepentingan bilateral, tetapi juga menunjukkan bagaimana Korea Selatan berupaya memainkan peran penyeimbang di tengah rivalitas kekuatan besar di Asia Timur. []
Diyan Febriana Citra.

