KUDUS – Bencana tanah longsor kembali menelan korban jiwa di wilayah perbukitan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (11/01/2026) sore itu menyoroti tingginya kerentanan kawasan lereng Muria terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat curah hujan meningkat tajam.
Korban dalam kejadian tersebut adalah Sriyatun (45), warga Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog. Ia meninggal dunia setelah tertimbun reruntuhan bangunan warung miliknya yang roboh akibat longsoran tebing setinggi sekitar 15 meter di belakang bangunan. Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak pagi hari tanpa jeda signifikan.
Menurut keterangan warga, tanda-tanda alam sebenarnya sudah muncul sebelum kejadian. Beberapa saksi mengaku mendengar suara gemuruh disertai jatuhnya kerikil dari arah bukit yang berada tepat di belakang warung korban. Getaran kecil sempat dirasakan sesaat sebelum tanah ambrol dan menghantam bangunan.
Pada saat kejadian, korban bersama suaminya sempat keluar dari warung untuk menyelamatkan diri. Namun, situasi berubah menjadi tragis ketika korban memutuskan kembali masuk ke dalam bangunan untuk mengambil tas yang tertinggal. Tidak lama setelah itu, tebing runtuh secara tiba-tiba, menghantam dan merobohkan konstruksi beton warung hingga menimbun tubuh korban.
Upaya penyelamatan dilakukan oleh warga sekitar dengan peralatan seadanya. Proses evakuasi berlangsung penuh kepanikan karena material bangunan yang menimpa korban cukup berat dan padat.
“Korban terhimpit tembok bangunan yang sangat berat. Kami berupaya maksimal, namun nyawanya tidak tertolong,” ujar Ahmad Syaukon, warga yang ikut membantu evakuasi.
Jenazah korban baru dapat dikeluarkan setelah beberapa saat karena posisinya terjepit reruntuhan beton. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus mengguncang warga sekitar yang sebagian besar tinggal di kawasan lereng perbukitan.
Bupati Kudus Samani Intakoris yang datang melayat ke rumah duka menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Ia juga menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah rawan longsor.
“Cuaca masih sangat ekstrem. Jika tidak ada urusan mendesak, lebih baik hindari aktivitas di luar rumah, terutama di area rawan,” kata Samani, Senin (12/01/2026).
Pemerintah Kabupaten Kudus mencatat, selain di Desa Menawan, longsor juga dilaporkan terjadi di puluhan titik lain yang tersebar di dua kecamatan. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait menetapkan status waspada di kawasan perbukitan Muria.
Langkah antisipasi terus dilakukan, mulai dari pemantauan intensif kondisi lereng hingga sosialisasi kepada warga terkait tanda-tanda awal longsor. Intensitas hujan yang masih tinggi dalam beberapa hari ke depan dikhawatirkan membuat tanah semakin jenuh dan meningkatkan potensi longsor susulan.
Warga yang bermukim di dekat tebing dan lereng diimbau untuk segera mengungsi sementara apabila melihat rekahan tanah, pohon miring, atau mendengar suara gemuruh dari arah perbukitan. Pemerintah daerah juga menyiapkan koordinasi lintas sektor guna memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama. []
Diyan Febriana Citra.

