TERNATE — Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah Maluku Utara pada Kamis (15/01/2026) dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,0 mengguncang kawasan Pulau Doi sekitar pukul 01.00 WIB. Meski terjadi pada waktu masyarakat tengah beristirahat, gempa tersebut dipastikan tidak menimbulkan potensi tsunami.
BMKG melaporkan pusat gempa berada di laut, tepatnya sekitar 69 kilometer barat daya Pulau Doi, dengan kedalaman mencapai 103 kilometer. Kedalaman gempa yang tergolong menengah ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan getaran tidak dirasakan secara luas di permukiman padat penduduk. Hingga beberapa jam setelah kejadian, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut.
Menurut analisis awal BMKG, gempa ini tergolong gempa tektonik yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng di kawasan Maluku Utara. Wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu daerah rawan gempa karena berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif. Aktivitas seismik di kawasan ini relatif sering terjadi, baik dengan kekuatan kecil hingga menengah.
Meskipun tidak berpotensi tsunami, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak terpancing informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diingatkan untuk selalu mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh BMKG melalui kanal komunikasi yang tersedia, termasuk situs web dan media sosial resmi.
Sejumlah warga di wilayah pesisir Maluku Utara dilaporkan sempat merasakan getaran ringan, meski tidak cukup kuat untuk memicu kepanikan massal. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah bersama aparat terkait masih melakukan pemantauan situasi untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan yang membahayakan masyarakat.
Kejadian gempa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama bagi daerah-daerah yang berada di zona rawan gempa. Para ahli kebencanaan menekankan bahwa meskipun tidak semua gempa menimbulkan kerusakan, kesiapan masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko.
BMKG juga mengingatkan warga untuk memahami langkah-langkah mitigasi gempa, seperti mengenali titik aman di dalam rumah, memastikan struktur bangunan memenuhi standar keamanan, serta menyiapkan perlengkapan darurat. Edukasi kebencanaan dinilai sangat penting, terutama di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara yang memiliki keterbatasan akses saat terjadi keadaan darurat.
Sementara itu, pemantauan aktivitas gempa susulan masih terus dilakukan. Hingga saat ini, BMKG belum melaporkan adanya gempa susulan yang signifikan pascagempa utama tersebut. Situasi secara umum terpantau aman dan terkendali.
Dengan kondisi yang relatif stabil, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tidak mengabaikan kewaspadaan. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan terus bersinergi dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam di masa mendatang. []
Diyan Febriana Citra.

