Tim SAR Ungkap Detik-detik Temukan Korban Kedua Pesawat ATR 42-500

Tim SAR Ungkap Detik-detik Temukan Korban Kedua Pesawat ATR 42-500

Bagikan:

PANGKEP – Proses pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus berlangsung dengan medan yang sulit dan penuh risiko. Salah satu anggota tim pencarian dan pertolongan (SAR), Saiful Malik (32), mengungkapkan pengalaman emosionalnya saat pertama kali menemukan korban kedua dari insiden kecelakaan udara tersebut. Korban ditemukan dalam kondisi tersangkut di sebuah pohon di lereng gunung.

Saiful menjelaskan, penemuan itu berawal ketika ia melihat sejumlah serpihan pesawat yang berserakan di kawasan lereng. Temuan tersebut menjadi petunjuk awal bahwa lokasi itu patut dicurigai sebagai titik jatuhnya badan pesawat maupun keberadaan korban. Dengan kehati-hatian tinggi, Saiful kemudian menelusuri area tersebut seorang diri sambil menyisir setiap sudut lereng.

“Saya melihat serpihan-serpihan. Kemudian saya cari jalan menuju serpihan itu. Saya menyisir ke kanan, lalu melihat bekas-bekas pohon dan batu yang pecah,” kata Saiful di Pangkep, Senin (19/01/2026).

Ia menambahkan, kondisi alam di sekitar lokasi menunjukkan tanda-tanda benturan keras, mulai dari pepohonan yang rusak hingga batuan yang terbelah. Temuan itu semakin menguatkan dugaan bahwa korban berada tidak jauh dari lokasi tersebut.

“Saya sudah mulai curiga kemungkinan ada di sini. Saya agak menyisir ke lereng sebelah dan ternyata di situ saya menemukan korban tersangkut di pohon,” lanjutnya.

Pada saat pencarian dilakukan, sedikitnya 18 personel tim SAR terlibat dan telah bergerak sejak pagi hari. Namun, medan yang terjal dan vegetasi yang lebat membuat proses penyisiran berlangsung lambat dan penuh kehati-hatian. Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.00 WITA lebih, korban kedua berhasil dipastikan keberadaannya.

“Ditemukan sekitar jam 2 lewat,” ucapnya.

Meski telah menemukan korban, Saiful mengaku tidak langsung melakukan evakuasi. Ia memilih menunggu kedatangan rekan-rekannya dari Basarnas dan unsur tim lainnya demi menjaga keselamatan bersama serta memastikan prosedur evakuasi berjalan sesuai standar.

“Saat itu saya belum berani mendekat. Saya tunggu teman-teman dulu. Begitu abang dan teman-teman Basarnas serta yang lainnya datang, baru kita dekati. Ternyata korban perempuan,” bebernya.

Saiful juga memaparkan kondisi korban saat ditemukan. Secara umum, tubuh korban masih dalam keadaan utuh, meskipun terdapat sejumlah luka serius akibat benturan. Ia menyebut adanya patah tulang pada kaki kanan serta luka terbuka di bagian perut.

“Posisi ditemukan dalam keadaan tengkurap, bagian perut agak terburai, terus kaki patah. Korban memakai baju warna hitam non-uniform, seperti sepatu kets dan celana jeans,” sebutnya.

Setelah proses identifikasi awal, korban kemudian dipindahkan ke lokasi yang lebih aman di jalur penyelamatan. Tim SAR memutuskan untuk menunda proses evakuasi turun mengingat kondisi medan dan faktor keselamatan. Rencananya, evakuasi korban akan dilakukan pada Selasa (20/01/2026), dengan persiapan teknis yang lebih matang.

Proses pencarian dan evakuasi ini menjadi gambaran beratnya tugas tim SAR dalam menangani kecelakaan di wilayah pegunungan, sekaligus menunjukkan dedikasi para personel yang terus bekerja di tengah keterbatasan dan risiko tinggi. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews