Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 900 Meter

Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 900 Meter

Bagikan:

LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan pada Sabtu (24/01/2026) pagi. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami erupsi yang disertai lontaran abu vulkanik, sehingga memicu peningkatan kewaspadaan bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan sekitarnya.

Informasi erupsi ini disampaikan oleh Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru yang berada di bawah pengelolaan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Berdasarkan laporan resmi, letusan terjadi pada pukul 08.25 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 900 meter di atas puncak kawah. Kolom abu terpantau jelas dari pos pengamatan dan sejumlah wilayah di sekitar lereng gunung.

“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah timur laut. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung,” ujar Liswanto, petugas Pos Pantau Gunung Api Semeru PVMBG, dalam laporan tertulisnya.

Arah sebaran abu yang condong ke timur laut menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada aktivitas masyarakat di wilayah tersebut, terutama bagi warga yang berada di jalur sebaran abu vulkanik. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan permukiman maupun korban jiwa akibat erupsi tersebut.

PVMBG menegaskan bahwa status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung api masih tinggi dan dapat sewaktu-waktu mengalami peningkatan, sehingga memerlukan kesiapsiagaan yang lebih serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat.

Dalam situasi tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan. Salah satu poin utama adalah larangan melakukan aktivitas di radius tertentu dari pusat erupsi. Warga diminta untuk tidak melakukan kegiatan apa pun dalam radius 8 kilometer dari kawah aktif, serta menjauhi kawasan yang berpotensi menjadi jalur aliran awan panas dan lahar.

“Tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai karena berpotensi terlanda awan panas dan aliran lahar hingga 13 kilometer dari puncak,” jelas Liswanto.

Selain ancaman lontaran abu dan awan panas, potensi aliran lahar juga menjadi perhatian utama, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di sekitar kawasan puncak. Material vulkanik yang terbawa air hujan dapat mengalir melalui sungai-sungai yang berhulu di Gunung Semeru dan membahayakan wilayah di sekitarnya.

Pemerintah daerah bersama aparat terkait terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan tidak mudah terpancing oleh isu atau kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap arahan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Semeru. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews